We would be happy to provide custom-made design to meet your corporate gift needs. Please contact our corporate gift advisor.



"Kalau mau, ya bisa, misalnya Gucci by Indonesia. Dengan cara itu market kita jadi internasional. Mutu juga jadi internasional. Tinggal bagaimana mengaturnya," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di acara pameran tenun tradisional di Gedung Kementerian Perindustrian (Kemenperin), di Jakarta, beberapa waktu lalu. Sebagai langkah awal, Hidayat menyatakan pihaknya akan menemui Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Gatot Suwondo yang akan menjadi mitra dalam kerja sama ini. BNI berperan sebagai marketing dan perantara pembiayaan.

Dengan kerja sama tersebut, Hidayat berharap dapat mengangkat kembali sektor industri tenun tradisional. Tahun lalu, volume produksi tenun nasional mengalami penurunan hingga 40%. Jika dibiarkan, kondisi sektor industri tenun tradisional akan memburuk.

Turunnya produksi tersebut, kata Hidayat, disebabkan kurangnya minat para perajin untuk terus melanjutkan produksi tenun tradisional mengingat proses produksinya memakan waktu lama. "Proses produksi satu helai kain tenun dapat memakan waktu hingga tiga bulan, bahkan lebih," ujarnya. Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin Fauzi Aziz mengatakan, turunnya volume produksi tenun nasional lebih karena masalah persaingan dan turunnya daya beli masyarakat internasional di daerah tujuan ekspor.

Turunnya volume produksi tersebut, lanjutnya, dapat disiasati dengan berkreasi dalam diferensiasi produk. Namun, hal itu juga menyebabkan banyaknya tenaga kerja yang dirumahkan sementara. Selain itu, perlu adanya kolaborasi untuk menembus pasar. "Perlu ada upaya lebih, misalnya

dengan sentuhan perancang, tenun bisa menembus pasar, baik domestik maupun luar negeri," katanya.

Tumbuh 20%

Ketua Pengurus Asosiasi Pengusaha dan Perajin Tenun Indonesia Tuty Cholid mengatakan, dari sekitar 4 juta perajin tenun skala menengah besar, volume produksi tenun sutra per tahun mencapai 15 juta meter.

Untuk tenun karun mampu diproduksi enam kali lipatnya atau sekitar 90 juta meter per tahun. Dari jumlah tersebut, hanya tenun sutra yang diekspor dan jumlahnya kurang dari 100 meter per bulan.

Hingga saat ini, pasar tenun katun masih terbatas di dalam negeri. Pada 2010, Tuty menargetkan pertumbuhan volume produksi naik 20% dari tahun lalu. "Ekspor sutra 100 meter per bulan di 2009. Tahun 2008 sekitar 80 ribu meter per bulan. Tujuan ekspor kita Jepang dan Eropa. Pasar Iwndnwde ada di sana."

Untuk menjaga sektor ini dari kepunahan, lanjut Tuty, perlu adanya pembinaan dan bantuan pembiayaan. "Pembinaan perlu agar perajin tahu ke arah mana. Apakah untuk specific interior, hoiiseiiold atau fashion. Jadi lebih tematik dan fokus," katanya.

http://bataviase.co.id/node/161359


2010-04-11


Menurut Wati, Batik Madura mulai tampak digemari mulai sekitar tahun 1985-an. Pemerintah kabupaten setempat pun memberikan perhatian. Ini sudah diterapkan sejak tahun 1981, salah satunya dengan UPT tadi. Namun kenyataan para perajin setempat mempunyai kultur berbeda. Harapan semula UPT ini bisa menjadi wadah komunikasi sekaligus koordinasi, mungkin kelak bisa menjadi semacam asosiasi. Namun langkah ke arah tersebut tidak pas bagi para perajin.

Para perajin setempat lebih suka menjual batik karyanya secara langsung sendiri-sendiri. Atau mereka (perajin sebagai plasma) menyerahkan kepada pengusaha (sebagai inti), dan pengusaha ini yang kemudian akan menjual melalui jalur pemasaran yang dimilikinya.

Sehingga jalan yang dianggap paling cocok adalah dengan menjadikan UPT sekedar sebagai wadah hasil karya mereka saja. Sebab itu pula UPT ini sempat stag, dan kabarnya tahun ini akan kembali diaktifkan. Bentuk lain perhatian pemerintah dan beberapa lembaga lain seperti mengadakan serangkaian pelatihan, melakukan studi banding, sampai dengan membuka kesempatan untuk mengikuti beberapa pameran.

Orang-orang asing, seperti dari Jepang dan Belanda, lebih menyukai Batik Madura yang orisinil. Bahkan mereka sangat tahu, mana batik yang menggunakan pewarna alami (soga alam), dan mana batik yang menggunakan naftol atau pewarna kimia.

Beberapa tamu asing yang datang ke sana, bahkan membawa alat (semacam keker) untuk mengamati serat kain batik tersebut. Mereka juga sangat cermat memperhatikan setiap detil pada kain tersebut. Mereka akan menolak batik yang ditemukan terdapat noda bekas tetesan. Dianggapnya, sang pembatik kurang teliti, kurang rapi, dan kurang menjiwai dalam pengerjaannya.

Harga produk batik dari yang termurah Rp 25 ribu, berupa taplak meja. Sedangkan yang paling mahal, seperti kain batik untuk busana wanita, bisa mencapai dua juta rupiah. Namun demikian, menurut Wati, juga ada batik yang harganya di kisaran Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu.

http://pusakanesia.blogspot.com/2007/07/batik-madura.html


 


2010-03-11


Maka selain sebagai identitas budaya, hasil-hasil tenunan dan tekstil lainnya memainkan peranan penting dalam kehidupan sosial - ekonomi masyarakatnya. Dibeberapa daerah di tanah air, seperti kain batik telah menjadi industri yang bukan hanya mendatangkan pendapatan bagi sekelompok orang, tetapi menjadi sumber pendapatan daerah dan mungkin saja negara. Karena bagaimanapun kain tenun dan hasil tekstil lainnya masih dipergunakan untuk upacara – upacara khusus adat – istiadat dan ritual lainnya, bahkan penggunaannya masih berlangsung dalam keseharian masyarakat. Dalam perkembangannya, secara inovasi, kain tenun telah mengalami evolusi dalam teknik maupun coraknya. Namun dari bahan, motif serta pola tersebut kita pun bisa menangkap pengaruh-pengaruh jamannya. Bahkan dalam penerapannya kain-kain tenun bisa menjadi materi yang menarik dijadikan gubahan yang dikreasikan pada pakaian oleh para disainer fesyen kontemporer maupun untuk kain pelapis atau Upholstery. Ini juga menunjukan bahwa seni tradisi tidaklah mandek, bahkan sebaliknya menunjukan kreativitasnya.

Pameran “Merajut Waktu Menjalin Makna” merupakan suatu tinjauan bagaimana hasil tenun Nusantara terus berkembang sesuai dengan perubahan-perubahan sosial, budaya dan ekonomi masyarakatnya. Oleh karenanya, mengamati pola-pola, motif dan warna serta penerapannya menjadi sangat penting. Karena sebagai praktik budaya, elemen-elemen didalam kain tenun mempunyai makna simbolik yang terkait dengan faktor eksternal seperti sosial,politik dan kebudayaan. Hal ini bisa dicermati dari tingkat kehalusan teknik tenun, materi atau bahan hingga penerapan motifnya.

Pengaruh kontak budaya melalui jalur – jalur perdagangan dari peradaban lampau, hingga kemudian dengan rentang masa era kolonial, telah menghasilkan beragam olahan artistik dalam kehidupan seni tradisi khususnya kain tenun. Pengaruh ini samasekali tidak melemahkan keberadaan seni tenun sebagai sebuah bentuk seni tradisi dalam konteks kehidupan sakral , tapi justru memperkaya nilai-nilai estetikanya. Bahkan lebih jauh bila ditelusuri dan pencermatan melalui motif-motifnya, niscaya kita bisa membaca tanda-tanda budaya atau narasi. Oleh karena itu seni kriya , khususnya seni tenun mempunyai dimensi nilai simbolik. Seperti yang dikatakan seorang pemerhati kain tenun songket Minang berkebangsaan Swiss, Bernhard Bart, yang mengemukakan bahwa keunikan motif lama songket Minangkabau adalah setiap motif mengandung makna filosofis. (Kompas, 17 February 2006)

Bersama-sama Tria Basuki dan Yayasan Cita Tenun Indonesia (CTI), yang mengembangkan secara khusus kain tenun nusantara, menyeleksi karya-karya tenun pengembangan tradisi dengan keberagaman teknik dasar serta corak artistik. Puluhan ragam hasil tenun dari berbagai wilayah ditampilkan di NAS, mulai dengan pola yang delicate ; rumit serta halus dengan pola stilasi bentuk dan geomteris yang berlapis seperti dari Aceh, Minangkabau dan Palembang, hingga yang tampak lebih bebas dengan pola sederhana maupun figuratif, namun dinamis seperti dari Bali, Nusa Tenggara atau warna cerah dari Makassar, serta Badui yang lebih minimalis serta didominasi warna yang gelap. Sehingga keluasan wilayah ini memberikan kita gambaran bagaimana praktik tenun merepresentasikan juga estetik sebuah masyarakat yang majemuk. Adapula karya-karya perancang mode ternama maupun benda-benda keseharian yang menggunakan tenun maupun dilapisi kain tenun sebagai suatu alternatif yang secara kreatif bisa dikembangkan lebih lanjut.

http://pasarseniancol.blogspot.com/2009/07/pameran-tenun-kontemporer-merajut-waktu.html


2010-03-11


Pilihan untuk mendirikan Museum Batik berskala nasional di Kota Pekalongan diakui atau tidak menjadikan Kota Pekalongan mempunyai nilai tambah yang sangat signifikan. Karena mampu mendongkrak integritas Pekalongan sebagai ‘Negeri Sejuta Batik’, yang tidak hanya dikenal ditingkat local namun internasional.

Ini semua tidak terlepas dari upaya Pemerintah kota Pekalongan yang dipimpin Walikota dr.HM.Basyir Ahmad dan Wakilnya H.Abu Almafachir yang memperoleh dukungan secara total dari berbagai pihak seperti Yayasan Batik Indonesia, Yayasan Kadin hingga masyarakat Pekalongan yang tinggal di Jakarta yang dikenal dengan OPEK (Orang Pekalongan) disamping para kuraktor batik.

Pendirian Museum Batik oleh Kota Pekalongan tidak terlepas dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat, memajukan kesenian budaya sekaligus mendukung tumbuhnya industry usaha perbatikan. Sehingga fungsi museum tidak sekedar memamerkan dan menyimpan batik namun juga sebagai jendela ekonomi disamping sebagai data center dan pusat kajian pustaka maupun koleksi.

Gedung Museum Batik seluas 600 m? sebagai pilihan sangat tepat karena peninggalan VOC Belanda yang dikenal sebagai City Hall yang berusia tua (1906) dalam waktu singkat Museum Batik terwujud. Dan tidak kepalang tanggung pada tanggal 12 Juli 2006 peresmian dilakukan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Any Yudhoyono bersama rombongan Menteri Kabinet Indosat Bersatu serta para tamu Negara sahabat pecinta maupun pemerhati batik.

Untuk mengisi museum, dengan suka rela para kolektor berpartisipasi menyumbangkan koleksi batik-batik yang berusia tua dan langka, seperti batik milik Ibu Minarsih Soedarpo, Ghea Pangabean, Grazeila S. Rapjanidewi, Nian Djoemono, Syarifah Nawawi, Grizelda A. Loemono, RA Soejatoen Damais, Roos Roesmali, Tumbu Ramelan, Maria Moerad serta dari Pekalongan Fatchiyah A. Kadir, Afif Sahur, Dudung Alisyahbana, Romi Oktabirawa, Fathurachman (Tukman), Fredi Wijaya serta beberapa tokoh batik lainya. Dalam waktu sekejap ada sekitar 500 koleksi batik berbagai corak berhasil dihimpun. Mulai batik corak keratin Solo-Jogja sampai batik corak kawasan Selatan Jawa seperti batik Banyumas, Kebumen, Purworejo maupun batik corak pesisir Utara, seperti Cirebon, Pekalongan, Lasem, hingga Madura.

Dari titik awal inilah Kota Pekalongan mulai mengembalikan jati dirinya menunjukkan kelasnya sebagai Kota Batik. Maka apa yang dilantunkan kelompok music Slank sangatlah tidak mengada ada. Kota batik bukan Solo bukan Jogja tapi Pekalongan.

http://museumbatik.kotapekalongan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=46&Itemid=1



 



2010-02-23


Menurut sejarahnya, di daerah cirebon terdapat pelabuhan yang ramai disinggahi berbagai pendatang dari dalam maupun luar negri. Salah satu pendatang yang cukup berpengaruh adalah pendatang dari Cina yang membawa kepercayaan dan seni dari negerinya.

Dalam Sejarah diterangkan bahwa Sunan Gunung Jati yang mengembangkan ajaran Islam di daerah Cirebon menikah dengan seorang putri Cina Bernama Ong TIe. Istri beliau ini sangat menaruh perhatian pada bidang seni, khususnya keramik. Motif-motif pada keramik yang dibawa dari negeri cina ini akhirnya mempengaruhi motif-motif batik hingga terjadi perpaduan antara kebudayaan Cirebon-Cina.

Salah satu motif yang paling terkenal dari daerah Cirebon adalah batik Mega Mendung atau Awan-awanan. Pada motif ini dapat dilihat baik dalam bentuk maupun warnanya bergaya selera cina.

Motif mega mendung melambangkan pembawa hujan yang di nanti-natikan sebagai pembawa kesuburan, dan pemberi kehidupan. Motif ini didominasi dengan warna biru, mulai biru muda hingg biru tua. Warna biru tua menggambarkan awan gelap yang mengandung air hujan, pemberi penghidupan, sedangkan warna biru muda melambangkan semakin cerahnya kehidupan.

http://batikpekalongan.wordpress.com/2007/11/

2010-02-23

Total 118 Articles
ARTICLE
Tenun Indonesia Go International [2010-04-11]

GUCCI dan Christian Dior berniat untuk menggunakan tenun Indonesia dalam varian produknya. Sektor industri tenun di Tanah Air akan kembali terangkat setelah beberapa tahun ini mengalami penurunan produksi. Bak gayung bersambut, pemerintah pun langsung menindaklanjuti kerja sama dengan dua label kenamaan dunia ini. Syaratnya, perlu ada label khusus untuk setiap produk yang menggunakan tenun Indonesia sehingga nama dan kualitas produk domestik juga ikut dikenal secara global.


Alami yang Disuka [2010-03-11]

Batik Madura mulai dilihat sebagai potensi Tanjung Bumi, dan Madura secara umum. Beberapa tahun silam, di Tanjung Bumi juga pernah didirikan Unit Pelayanan Teknik Batik (UPT Batik) oleh dinas Perindustrian Kabupaten Bangkalan. Sebab banyaknya pengrajin batik di Tanjung Bumi. Dalam perjalanannya UPT Batik itu berfungsi sebagai wadah dari hasil karya para perajin. Sekaligus sebagai mediator antara perajin dan pembeli. Pada saat itu semua batik hasil para perajin di kecamatan tersebut di kumpulkan di UPT tadi.

Merajut Waktu Menjalin Makna [2010-03-11]

Kain tenun dan hasil tekstil lainnya adalah suatu warisan kekayaan peninggalan para leluhur bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Hampir seluruh kelompok etnis di wilayah Nusantara hingga saat ini masih melakukan pembuatan tenun, baik secara turun temurun maupun dalam wilayah industri kecil dan menengah. Hasil-hasil tenun dari Nusantara juga menjadi salah satu bentuk artefak budaya yang paling menyebar dihampir seluruh museum dibelahan dunia. Kekaguman pada corak atau motif dan pola-pola yang rumit namun indah serta halus dan mempunyai kandungan makna budaya menjadikan para pencinta kain tenun dan peneliti diseluruh dunia mengakui bahwa estetika kain tenun di Indonesia memang begitu beragam dan bernilai budaya tinggi.

Negeri Sejuta Motif Batik [2010-02-23]

Ada sesuatu yang sangat fenomenal dalam sejarah Pekalongan empat tahun terakhir ini, yakni berdirinya Museum Batik. Keberadaannya mampu menjadikan titik tolak kebangkitan Kota Pekalongan. Karena keberadaan Museum tidak hanya sekedar untuk menyimpan berbagai benda-benda bersejarah saja. Namun dari museum mampu dirunut sebuah perjalanan kehidupan serta budaya masa lalu. Dari sini kita bisa melihat sekaligus belajar mengerti tentang tapak sejarah batik tidak hanya skala lokal setetapi batik secara nasional.


Batik Mega Mendung [2010-02-23]

ampir di seluruh wilayah Jawa memiliki kekayaan budaya batik yang khas. tentu saja ada daerah-daerah yang lebih menonjol seperti Solo, Yogya, dan Pekalongan. tetapi kekayaan seni batik daerah Cirebon juga tidak kalah dibanding kota-kota lainnya.

[View All]
LINKS
Leoniko
Nusansifor
RANDOM GALLERY


STATIONERY TD-01




HOME | ABOUT US | SERVICES | GALLERY | ARTICLE | HOW TO BUY | COORPORATE GIFT ADVISOR | CONTACT US

© Copyright 2007 IDEGIFT.COM Designed by Leoniko