Menurut Wati, Batik Madura mulai tampak
digemari mulai sekitar tahun 1985-an. Pemerintah kabupaten setempat
pun memberikan perhatian. Ini sudah diterapkan sejak tahun 1981,
salah satunya dengan UPT tadi. Namun kenyataan para perajin setempat
mempunyai kultur berbeda. Harapan semula UPT ini bisa menjadi wadah
komunikasi sekaligus koordinasi, mungkin kelak bisa menjadi semacam
asosiasi. Namun langkah ke arah tersebut tidak pas bagi para perajin.
Para perajin setempat lebih suka
menjual batik karyanya secara langsung sendiri-sendiri. Atau mereka
(perajin sebagai plasma) menyerahkan kepada pengusaha (sebagai inti),
dan pengusaha ini yang kemudian akan menjual melalui jalur pemasaran
yang dimilikinya.
Sehingga jalan yang dianggap paling
cocok adalah dengan menjadikan UPT sekedar sebagai wadah hasil karya
mereka saja. Sebab itu pula UPT ini sempat stag, dan kabarnya tahun
ini akan kembali diaktifkan. Bentuk lain perhatian pemerintah dan
beberapa lembaga lain seperti mengadakan serangkaian pelatihan,
melakukan studi banding, sampai dengan membuka kesempatan untuk
mengikuti beberapa pameran.
Orang-orang asing, seperti dari Jepang
dan Belanda, lebih menyukai Batik Madura yang orisinil. Bahkan mereka
sangat tahu, mana batik yang menggunakan pewarna alami (soga alam),
dan mana batik yang menggunakan naftol atau pewarna kimia.
Beberapa tamu asing yang datang ke
sana, bahkan membawa alat (semacam keker) untuk mengamati serat kain
batik tersebut. Mereka juga sangat cermat memperhatikan setiap detil
pada kain tersebut. Mereka akan menolak batik yang ditemukan terdapat
noda bekas tetesan. Dianggapnya, sang pembatik kurang teliti, kurang
rapi, dan kurang menjiwai dalam pengerjaannya.
Harga produk batik dari yang termurah
Rp 25 ribu, berupa taplak meja. Sedangkan yang paling mahal, seperti
kain batik untuk busana wanita, bisa mencapai dua juta rupiah. Namun
demikian, menurut Wati, juga ada batik yang harganya di kisaran Rp
100 ribu hingga Rp 500 ribu.
http://pusakanesia.blogspot.com/2007/07/batik-madura.html
2010-03-11 | | |
Maka selain sebagai identitas budaya,
hasil-hasil tenunan dan tekstil lainnya memainkan peranan penting
dalam kehidupan sosial - ekonomi masyarakatnya. Dibeberapa daerah di
tanah air, seperti kain batik telah menjadi industri yang bukan hanya
mendatangkan pendapatan bagi sekelompok orang, tetapi menjadi sumber
pendapatan daerah dan mungkin saja negara. Karena bagaimanapun kain
tenun dan hasil tekstil lainnya masih dipergunakan untuk upacara –
upacara khusus adat – istiadat dan ritual lainnya, bahkan
penggunaannya masih berlangsung dalam keseharian masyarakat. Dalam
perkembangannya, secara inovasi, kain tenun telah mengalami evolusi
dalam teknik maupun coraknya. Namun dari bahan, motif serta pola
tersebut kita pun bisa menangkap pengaruh-pengaruh jamannya. Bahkan
dalam penerapannya kain-kain tenun bisa menjadi materi yang menarik
dijadikan gubahan yang dikreasikan pada pakaian oleh para disainer
fesyen kontemporer maupun untuk kain pelapis atau Upholstery. Ini
juga menunjukan bahwa seni tradisi tidaklah mandek, bahkan sebaliknya
menunjukan kreativitasnya.
Pameran “Merajut Waktu Menjalin
Makna” merupakan suatu tinjauan bagaimana hasil tenun Nusantara
terus berkembang sesuai dengan perubahan-perubahan sosial, budaya dan
ekonomi masyarakatnya. Oleh karenanya, mengamati pola-pola, motif dan
warna serta penerapannya menjadi sangat penting. Karena sebagai
praktik budaya, elemen-elemen didalam kain tenun mempunyai makna
simbolik yang terkait dengan faktor eksternal seperti sosial,politik
dan kebudayaan. Hal ini bisa dicermati dari tingkat kehalusan teknik
tenun, materi atau bahan hingga penerapan motifnya.
Pengaruh kontak budaya melalui jalur –
jalur perdagangan dari peradaban lampau, hingga kemudian dengan
rentang masa era kolonial, telah menghasilkan beragam olahan artistik
dalam kehidupan seni tradisi khususnya kain tenun. Pengaruh ini
samasekali tidak melemahkan keberadaan seni tenun sebagai sebuah
bentuk seni tradisi dalam konteks kehidupan sakral , tapi justru
memperkaya nilai-nilai estetikanya. Bahkan lebih jauh bila ditelusuri
dan pencermatan melalui motif-motifnya, niscaya kita bisa membaca
tanda-tanda budaya atau narasi. Oleh karena itu seni kriya ,
khususnya seni tenun mempunyai dimensi nilai simbolik. Seperti yang
dikatakan seorang pemerhati kain tenun songket Minang berkebangsaan
Swiss, Bernhard Bart, yang mengemukakan bahwa keunikan motif lama
songket Minangkabau adalah setiap motif mengandung makna filosofis.
(Kompas, 17 February 2006)
Bersama-sama Tria Basuki dan Yayasan
Cita Tenun Indonesia (CTI), yang mengembangkan secara khusus kain
tenun nusantara, menyeleksi karya-karya tenun pengembangan tradisi
dengan keberagaman teknik dasar serta corak artistik. Puluhan ragam
hasil tenun dari berbagai wilayah ditampilkan di NAS, mulai dengan
pola yang delicate ; rumit serta halus dengan pola stilasi bentuk dan
geomteris yang berlapis seperti dari Aceh, Minangkabau dan Palembang,
hingga yang tampak lebih bebas dengan pola sederhana maupun
figuratif, namun dinamis seperti dari Bali, Nusa Tenggara atau warna
cerah dari Makassar, serta Badui yang lebih minimalis serta
didominasi warna yang gelap. Sehingga keluasan wilayah ini memberikan
kita gambaran bagaimana praktik tenun merepresentasikan juga estetik
sebuah masyarakat yang majemuk. Adapula karya-karya perancang mode
ternama maupun benda-benda keseharian yang menggunakan tenun maupun
dilapisi kain tenun sebagai suatu alternatif yang secara kreatif bisa
dikembangkan lebih lanjut.
http://pasarseniancol.blogspot.com/2009/07/pameran-tenun-kontemporer-merajut-waktu.html
2010-03-11 | | |
Pilihan untuk mendirikan Museum Batik
berskala nasional di Kota Pekalongan diakui atau tidak menjadikan
Kota Pekalongan mempunyai nilai tambah yang sangat signifikan. Karena
mampu mendongkrak integritas Pekalongan sebagai ‘Negeri Sejuta
Batik’, yang tidak hanya dikenal ditingkat local namun
internasional.
Ini semua tidak terlepas dari upaya
Pemerintah kota Pekalongan yang dipimpin Walikota dr.HM.Basyir Ahmad
dan Wakilnya H.Abu Almafachir yang memperoleh dukungan secara total
dari berbagai pihak seperti Yayasan Batik Indonesia, Yayasan Kadin
hingga masyarakat Pekalongan yang tinggal di Jakarta yang dikenal
dengan OPEK (Orang Pekalongan) disamping para kuraktor batik.
Pendirian Museum Batik oleh Kota
Pekalongan tidak terlepas dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan
rakyat, memajukan kesenian budaya sekaligus mendukung tumbuhnya
industry usaha perbatikan. Sehingga fungsi museum tidak sekedar
memamerkan dan menyimpan batik namun juga sebagai jendela ekonomi
disamping sebagai data center dan pusat kajian pustaka maupun
koleksi.
Gedung Museum Batik seluas 600 m?
sebagai pilihan sangat tepat karena peninggalan VOC Belanda yang
dikenal sebagai City Hall yang berusia tua (1906) dalam waktu singkat
Museum Batik terwujud. Dan tidak kepalang tanggung pada tanggal 12
Juli 2006 peresmian dilakukan oleh Presiden RI Susilo Bambang
Yudhoyono dan Ibu Negara Any Yudhoyono bersama rombongan Menteri
Kabinet Indosat Bersatu serta para tamu Negara sahabat pecinta maupun
pemerhati batik.
Untuk mengisi museum, dengan suka rela
para kolektor berpartisipasi menyumbangkan koleksi batik-batik yang
berusia tua dan langka, seperti batik milik Ibu Minarsih Soedarpo,
Ghea Pangabean, Grazeila S. Rapjanidewi, Nian Djoemono, Syarifah
Nawawi, Grizelda A. Loemono, RA Soejatoen Damais, Roos Roesmali,
Tumbu Ramelan, Maria Moerad serta dari Pekalongan Fatchiyah A. Kadir,
Afif Sahur, Dudung Alisyahbana, Romi Oktabirawa, Fathurachman
(Tukman), Fredi Wijaya serta beberapa tokoh batik lainya. Dalam waktu
sekejap ada sekitar 500 koleksi batik berbagai corak berhasil
dihimpun. Mulai batik corak keratin Solo-Jogja sampai batik corak
kawasan Selatan Jawa seperti batik Banyumas, Kebumen, Purworejo
maupun batik corak pesisir Utara, seperti Cirebon, Pekalongan, Lasem,
hingga Madura.
Dari titik awal inilah Kota Pekalongan
mulai mengembalikan jati dirinya menunjukkan kelasnya sebagai Kota
Batik. Maka apa yang dilantunkan kelompok music Slank sangatlah tidak
mengada ada. Kota batik bukan Solo bukan Jogja tapi Pekalongan.
http://museumbatik.kotapekalongan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=46&Itemid=1
2010-02-23 | | |
Menurut sejarahnya, di daerah cirebon
terdapat pelabuhan yang ramai disinggahi berbagai pendatang dari
dalam maupun luar negri. Salah satu pendatang yang cukup berpengaruh
adalah pendatang dari Cina yang membawa kepercayaan dan seni dari
negerinya.
Dalam Sejarah diterangkan bahwa Sunan
Gunung Jati yang mengembangkan ajaran Islam di daerah Cirebon menikah
dengan seorang putri Cina Bernama Ong TIe. Istri beliau ini sangat
menaruh perhatian pada bidang seni, khususnya keramik. Motif-motif
pada keramik yang dibawa dari negeri cina ini akhirnya mempengaruhi
motif-motif batik hingga terjadi perpaduan antara kebudayaan
Cirebon-Cina.
Salah satu motif yang paling terkenal
dari daerah Cirebon adalah batik Mega Mendung atau Awan-awanan. Pada
motif ini dapat dilihat baik dalam bentuk maupun warnanya bergaya
selera cina.
Motif mega mendung melambangkan pembawa
hujan yang di nanti-natikan sebagai pembawa kesuburan, dan pemberi
kehidupan. Motif ini didominasi dengan warna biru, mulai biru muda
hingg biru tua. Warna biru tua menggambarkan awan gelap yang
mengandung air hujan, pemberi penghidupan, sedangkan warna biru muda
melambangkan semakin cerahnya kehidupan.
http://batikpekalongan.wordpress.com/2007/11/
2010-02-23 | | |
Peragaan ini juga
bukan sekadar acara Lenny memperkenalkan koleksi terbarunya. Ini juga
perayaan atas pembukaan butik keduanya di Plaza Indonesia dan kerja
sama Lennor, merek dagang Lenny, dengan Batik Semar. Tahun lalu butik
pertama perancang bertubuh mungil ini dibuka di Central Park, Jakarta
Barat.
Tiap tahun Lennor
menyiapkan empat konsep koleksi yang dikembangkan berdasarkan pilihan
warna. "Tiap konsep keluar tiga bulan sekali, dengan tema
berbeda tapi ada hubungannya dengan tema sebelumnya," kata
Lenny, menjelaskan, seusai peragaan.
Lennor juga
konsisten menggunakan 100 persen materi dari negeri sendiri, seperti
sarung, batik, dan lurik. Tiga puluh koleksinya, terdiri atas 18
busana wanita dan 12 busana pria, ditampilkan Lenny.
"Desain
Lennor lebih ceria, sederhana, dan sarat kekinian," kata Lenny.
Kali ini Lenny mengkombinasikan dua hingga tiga warna dalam satu
rancangan. Gaun-gaun mini dengan satu bahu terbuka dengan berbagai
materi menjadi eksperimen Lenny, seperti batik dan lurik, bahkan
jins.
Lenny mengatakan
tak khawatir terhadap banyaknya perancang yang juga mengolah batik.
"Semakin banyak yang menggunakan batik, malah semakin bagus.
Saya yakin dalam berkarya tiap perancang punya sense of fashion yang
berbeda," Lenny menambahkan.
Salah satu
pembeda rancangan Lenny dengan yang lain adalah cutting yang lebih
fit slim alias pas di badan. "Enggak gombrong-gombrong, dan
lebih clean."
Karena itu, untuk
pria, Lennor mengembangkan berbagai kemeja yang sederhana, tapi
dengan detail yang unik. "Karena cowok sekarang ternyata genit
juga kan? Tapi segenit-genitnya cowok, kami buat tak terlalu
metroseksual," ujarnya.
Ada perkembangan
unik yang diamati Lenny. Dulu Lenny hanya menyisihkan 30 persen
desain bagi pria dan 70 persen untuk wanita. Tapi permintaan pasar
memaksanya membuat perbandingan produknya menjadi 40 persen untuk
pria dan 60 persen untuk wanita. Tak aneh jika dia bilang, "Saya
sendiri surprise dengan kenyataan ini."
Selain busana,
Lennor menawarkan koleksi aksesori, seperti topi anyaman, selendang
batik, serta kalung dan gelang rajutan dari materi manik-manik sumbu
kompor olahan.
Yang unik mungkin
pilihan Lenny yang menggandeng Batik Semar, yang dikenal sebagai
salah satu rumah batik klasik dengan warna-warna gelap. "Ide
awalnya sejak 2008. Intinya, kami ingin membuat brand ini jadi brand
internasional dengan materi asli Indonesia," kata Ananda
Soewono, CEO Lennor. Ananda optimistis di tangan Lenny, desain batik
jadi sungguh berbeda.
"Orang biasa
membeli barang brand internasional mengeluarkan uang ratusan juta tak
masalah. Kenapa kalau batik harga lebih mahal sedikit komplain, kok
mahal sekali," Ananda menambahkan.
Itulah sebabnya
Lenny mencoba membuka gerai-gerainya di beberapa pusat belanja
bersanding dengan merek dunia. "Ke depan, kami akan merambah ke
gerai kelas A di Surabaya dan Denpasar," tutur Adriyan Riyadi,
Business and Development Lennor.
Sedangkan untuk
pasar internasional, Adrian mengatakan akan mencoba menjajaki pasar
Asia Tenggara dulu. Dimulai dari Singapura. "Biar lebih
berfokus," katanya. Lenny sendiri sudah lebih dulu menampilkan
beberapa koleksinya di peragaan busana di Tokyo, Jepang, beberapa
waktu silam.
Taruna K.
Kusmayadi, Ketua Umum Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia
berharap upaya Lennor bisa menjadi standar asosiasi lain untuk
membuat industrinya tak hanya berstandar rumahan, tapi juga industri
besar. "Siapa tahu nantinya ada anak muda di Harajuku, Jepang,
yang mengenakan Lennor," kata Taruna.
http://www.tempointeraktif.com/hg/kecantikan/2010/02/18/brk,20100218-226615,id.html
2010-02-18 | |
Total 117 Articles
|
|
 |
| ARTICLE |
 | Alami yang Disuka [2010-03-11]
Batik Madura mulai dilihat sebagai
potensi Tanjung Bumi, dan Madura secara umum. Beberapa tahun silam,
di Tanjung Bumi juga pernah didirikan Unit Pelayanan Teknik Batik
(UPT Batik) oleh dinas Perindustrian Kabupaten Bangkalan. Sebab
banyaknya pengrajin batik di Tanjung Bumi. Dalam perjalanannya UPT
Batik itu berfungsi sebagai wadah dari hasil karya para perajin.
Sekaligus sebagai mediator antara perajin dan pembeli. Pada saat itu
semua batik hasil para perajin di kecamatan tersebut di kumpulkan di
UPT tadi.
|  | Merajut Waktu Menjalin Makna [2010-03-11]
Kain tenun dan hasil tekstil lainnya
adalah suatu warisan kekayaan peninggalan para leluhur bangsa
Indonesia yang tak ternilai harganya. Hampir seluruh kelompok etnis
di wilayah Nusantara hingga saat ini masih melakukan pembuatan tenun,
baik secara turun temurun maupun dalam wilayah industri kecil dan
menengah. Hasil-hasil tenun dari Nusantara juga menjadi salah satu
bentuk artefak budaya yang paling menyebar dihampir seluruh museum
dibelahan dunia. Kekaguman pada corak atau motif dan pola-pola yang
rumit namun indah serta halus dan mempunyai kandungan makna budaya
menjadikan para pencinta kain tenun dan peneliti diseluruh dunia
mengakui bahwa estetika kain tenun di Indonesia memang begitu beragam
dan bernilai budaya tinggi.
|  | Negeri Sejuta Motif Batik [2010-02-23]
Ada sesuatu yang sangat fenomenal dalam
sejarah Pekalongan empat tahun terakhir ini, yakni berdirinya Museum
Batik. Keberadaannya mampu menjadikan titik tolak kebangkitan Kota
Pekalongan. Karena keberadaan Museum tidak hanya sekedar untuk
menyimpan berbagai benda-benda bersejarah saja. Namun dari museum
mampu dirunut sebuah perjalanan kehidupan serta budaya masa lalu.
Dari sini kita bisa melihat sekaligus belajar mengerti tentang tapak
sejarah batik tidak hanya skala lokal setetapi batik secara nasional.
|  | Batik Mega Mendung [2010-02-23]
ampir di seluruh wilayah Jawa memiliki
kekayaan budaya batik yang khas. tentu saja ada daerah-daerah yang
lebih menonjol seperti Solo, Yogya, dan Pekalongan. tetapi kekayaan
seni batik daerah Cirebon juga tidak kalah dibanding kota-kota
lainnya.
|  | Utak-Atik Batik Plus Lurik [2010-02-18]
Batik pun bisa
tampil ceria dan sarat kebeliaan. "Dazzling Moments",
begitu Lenny Agustin memberi tema peragaan busananya di Plaza
Indonesia, Jakarta, Jumat pekan lalu. Momen senja itu memang layak
disebut mempesona-salah satu makna dazzling.
| | [View All]
|
|
| LINKS |
|
|
| RANDOM GALLERY |

SMALL FUNCTIONAL TRS-01
|
|