![]() |
![]() |
|
Sepatu Atau Lukisan?
“Mereka biasa beli sepatu puluhan juta, untuk karya seni bermutu saya yakin mereka tak berat,”Tiga kotak kayu itu dibentuk menyerupai radio kuno dua band. Warnanya coklat muda dan coklat tua lengkap dengan tombol volume dan tombol tuning, serta antena. Bahkan tak hanya mirip, kotak itu memang benar-benar radio. Tentu dengan segala fungsinya. Kotak itu adalah Magno Personal Radio karya Singgih Susilo Kartono asal Temanggung yang mendapat nominasi Desain Museum, Design of the Year 2009 di London. Tiga kotak kayu itu dibentuk menyerupai radio kuno dua band. Warnanya coklat muda dan coklat tua lengkap dengan tombol volume dan tombol tuning, serta antena. Bahkan tak hanya mirip, kotak itu memang benar-benar radio. Tentu dengan segala fungsinya. Kotak itu adalah Magno Personal Radio karya Singgih Susilo Kartono asal Temanggung yang mendapat nominasi Desain Museum, Design of the Year 2009 di London. Radio Magno itu memang sudah diproduksi massal, hanya saja dalam produksinya Singgih menggunakan bahan dari kayu Pinus dan Sonokeling. Kali ini, tiga radio itu oleh Singgih dibuat dari kombinasi kayu Lamtoro, Sonokeling, kayu Kopi, dan Jati. Tak hanya si magno, tepat di belakangnya ada miniatur Kapal Cheng Ho karya seniman gaek Amrus Natasya, atau patung perunggu gendut yang jadi ciri khas perupa Putu Adi Gunawan. Tak hanya patung, lukisan pun bertebaran di dinding. Ada karya Jopram, Palguna, Heri Kris, Utomo, tehnik pensilnya Rosid, Wahyu Gunawan, warna-warna cerah lukisan Bali karya Gung Man dan Gung Anom. Tak hanya karya perupa muda, karya perupa seniorpun tak ketinggalan, selain Amrus Nasirun, Sulistyo Hadinagoro, Arifin Neif, Tisna Sanjaya, ada pula Tresna Suryawan, Stefan Buana, Ipe Ma’roef, Amri Yahya, Koempoel Sujatno, Nyoman Gunarsa, dan Rivani Z. Barang-barang seni itu dipamerkan bersaing dengan barang fesyen pabrikan. Kok bisa? Tentu, karena pameran yang diakhiri dengan lelang itu digelar di pusat perbelanjaan, di gerai Harvey Nichols Indonesia Mal Plaza Indonesia. Ya, mungkin inilah apresiasi seni kosmopolitan ala pencinta fesyen. Itu ceruk dan peluang pasar yang kemudian ditangkap oleh Amir Sidharta, pemilik Sidarta Auctioneer. Perluas Pasar Sejak booming harga lukisan beberapa tahun terakhir, kemudian terpuruk akibat krisis, pasar senirupa berada di persimpangan. Pasar jenuh. Tak hanya karya-karya yang dihasilkan, tapi penikmatnya juga. Orangnya itu-itu saja. Sebelum krisis 2008 lukisan atau karya seni rupa lainnya mulai menjadi hal yang bisa dinikmati. Salah satunya, tentu karena nilai investasinya. Sayang, ketika krisis menghantam, imbasnya juga langsung terasa. Harga lukisan ikut-ikutan rontok dan pasarnya menciut. Menurut Amir Sidartha, dalam enam bulan terakhir ini pasar senirupa berada dalam posisi serba sulit. Hitungannya sederhana, banyak orang yang mulai berminat pada karya senirupa dan tahu mengkoleksi karya seni rupa itu kesenangan yang seru dan menarik. Tapi orang-orang inilah yang dalam dua tahun terakhir ragu-ragu membeli lukisan karena harga yang terus naik . “Saya bayangkan orang melihat karya senirupa, lalu dia mulai tertarik. Tapi sayang, ketika dia mau membeli lukisan itu, harganya naik. Datang lagi bulan depannya, sudah naik lagi” cerita Amir. Lukisan itu akhirnya tetap tak terbeli. Tentu pendapat Amir bukannya tak beralasan, meroketnya harga lukisan beberapa tahun terakhir membuat harga lukisan telah melampaui harga wajarnya. Begitu krisis datang, orang menahan diri membeli. Harga lukisan terkoreksi secara alami. “Nah, sekaranglah saatnya,” kata Amir. Selain tetap berharap pada penikmat seni yang sudah mapan, dengan menempatkan pameran dan lelang di pusat perbelanjaan, menurut Amir, sebagai kiat untuk memperluas pasar seni rupa. Prinsipnya simpel, sambil tetap bisa berbelanja barang-barang fesyen, mereka juga bisa melihat karya seni yang bermutu. “Berbeda dengan orang yang datang ke galeri, mereka itu benar-benar berniat melihat karya seni. Di sini tidak, mereka sambil belanja bisa melihat karya itu, kalau suka dan ingin memiliki karya seni itu dia bisa ikut lelang pada hari Minggu-nya” terang Amir. Dengan menempatkan pameran di Grand Indonesia, pasar yang coba disasar Amir jelas. Mereka yang berpenghasilan oke, dan mulai menikmati seni sebagai kesenangan. Dan tak daya belinya cukup. Harga? Tentu tak soal, “Mereka biasa beli sepatu puluhan juta, untuk karya seni bermutu saya yakin mereka tak berat,” jelas Amir. http://persinggahan.wordpress.com/2009/03/15/sepatu-atau-lukisan/
2010-02-05
|
|
|||||||||||||||||||||||
HOME | ABOUT US | SERVICES | GALLERY | ARTICLE | HOW TO BUY | COORPORATE GIFT ADVISOR | CONTACT US |
|
|
|
|
| © Copyright 2007 IDEGIFT.COM | Designed by Leoniko |