![]() |
![]() |
|
Utak-Atik Batik Plus Lurik
Batik pun bisa
tampil ceria dan sarat kebeliaan. "Dazzling Moments",
begitu Lenny Agustin memberi tema peragaan busananya di Plaza
Indonesia, Jakarta, Jumat pekan lalu. Momen senja itu memang layak
disebut mempesona-salah satu makna dazzling.
Peragaan ini juga bukan sekadar acara Lenny memperkenalkan koleksi terbarunya. Ini juga perayaan atas pembukaan butik keduanya di Plaza Indonesia dan kerja sama Lennor, merek dagang Lenny, dengan Batik Semar. Tahun lalu butik pertama perancang bertubuh mungil ini dibuka di Central Park, Jakarta Barat. Tiap tahun Lennor menyiapkan empat konsep koleksi yang dikembangkan berdasarkan pilihan warna. "Tiap konsep keluar tiga bulan sekali, dengan tema berbeda tapi ada hubungannya dengan tema sebelumnya," kata Lenny, menjelaskan, seusai peragaan. Lennor juga konsisten menggunakan 100 persen materi dari negeri sendiri, seperti sarung, batik, dan lurik. Tiga puluh koleksinya, terdiri atas 18 busana wanita dan 12 busana pria, ditampilkan Lenny. "Desain Lennor lebih ceria, sederhana, dan sarat kekinian," kata Lenny. Kali ini Lenny mengkombinasikan dua hingga tiga warna dalam satu rancangan. Gaun-gaun mini dengan satu bahu terbuka dengan berbagai materi menjadi eksperimen Lenny, seperti batik dan lurik, bahkan jins. Lenny mengatakan tak khawatir terhadap banyaknya perancang yang juga mengolah batik. "Semakin banyak yang menggunakan batik, malah semakin bagus. Saya yakin dalam berkarya tiap perancang punya sense of fashion yang berbeda," Lenny menambahkan. Salah satu pembeda rancangan Lenny dengan yang lain adalah cutting yang lebih fit slim alias pas di badan. "Enggak gombrong-gombrong, dan lebih clean." Karena itu, untuk pria, Lennor mengembangkan berbagai kemeja yang sederhana, tapi dengan detail yang unik. "Karena cowok sekarang ternyata genit juga kan? Tapi segenit-genitnya cowok, kami buat tak terlalu metroseksual," ujarnya. Ada perkembangan unik yang diamati Lenny. Dulu Lenny hanya menyisihkan 30 persen desain bagi pria dan 70 persen untuk wanita. Tapi permintaan pasar memaksanya membuat perbandingan produknya menjadi 40 persen untuk pria dan 60 persen untuk wanita. Tak aneh jika dia bilang, "Saya sendiri surprise dengan kenyataan ini." Selain busana, Lennor menawarkan koleksi aksesori, seperti topi anyaman, selendang batik, serta kalung dan gelang rajutan dari materi manik-manik sumbu kompor olahan. Yang unik mungkin pilihan Lenny yang menggandeng Batik Semar, yang dikenal sebagai salah satu rumah batik klasik dengan warna-warna gelap. "Ide awalnya sejak 2008. Intinya, kami ingin membuat brand ini jadi brand internasional dengan materi asli Indonesia," kata Ananda Soewono, CEO Lennor. Ananda optimistis di tangan Lenny, desain batik jadi sungguh berbeda. "Orang biasa membeli barang brand internasional mengeluarkan uang ratusan juta tak masalah. Kenapa kalau batik harga lebih mahal sedikit komplain, kok mahal sekali," Ananda menambahkan. Itulah sebabnya Lenny mencoba membuka gerai-gerainya di beberapa pusat belanja bersanding dengan merek dunia. "Ke depan, kami akan merambah ke gerai kelas A di Surabaya dan Denpasar," tutur Adriyan Riyadi, Business and Development Lennor. Sedangkan untuk pasar internasional, Adrian mengatakan akan mencoba menjajaki pasar Asia Tenggara dulu. Dimulai dari Singapura. "Biar lebih berfokus," katanya. Lenny sendiri sudah lebih dulu menampilkan beberapa koleksinya di peragaan busana di Tokyo, Jepang, beberapa waktu silam. Taruna K. Kusmayadi, Ketua Umum Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia berharap upaya Lennor bisa menjadi standar asosiasi lain untuk membuat industrinya tak hanya berstandar rumahan, tapi juga industri besar. "Siapa tahu nantinya ada anak muda di Harajuku, Jepang, yang mengenakan Lennor," kata Taruna. http://www.tempointeraktif.com/hg/kecantikan/2010/02/18/brk,20100218-226615,id.html
2010-02-18
|
|
|||||||||||||||||||||||
HOME | ABOUT US | SERVICES | GALLERY | ARTICLE | HOW TO BUY | COORPORATE GIFT ADVISOR | CONTACT US |
|
|
|
|
| © Copyright 2007 IDEGIFT.COM | Designed by Leoniko |