We would be happy to provide custom-made design to meet your corporate gift needs. Please contact our corporate gift advisor.



Radio kayu Magno yang didisain dan diproduksi Singgih Susilo Kartono berhasil meraih penghargaan sangat prestisius Brit Insurance Design of the Year 2009, yang diserahkan dalam acara makan malam yang dipronsori stasiun televisi swasta Channel 4, Selasa malam.

Selain penghragaan untuk disian produk, The Design Museum juga memberikan penghargaan untuk katagori Architecture, Fashion, Furniture, Graphics, Interactive, dan Transport

The Design Museum merupakan museum terkemuka di dunia yang memberikan penghargaan kepada disain kontemporer di berbagai negara dan katagori yang diumumkan Rabu.

Singgih mengatakan di London, Rabu, ia sendiri merasa mendapat suatu kejutan. "Saya tidak mengira apresiasi terhadap Magno Wooden radio ini cukup tinggi," ujarnya seraya mengungkapkan rasa kegembiraannya terhadap produk radio kayu desainnya dengan pendekatan filosofi desain Asia.

Hal ini menurut Singgih sangat sejalan dengan prinsip-prinsip "sustainable design."Radio kayu yang diberi merek Magno itu, sebelumnya juga diumumkan menjadi pemenang Good Design Award 2008 di Jepang untuk kategori Innovation/Pioneering & Experimental Design.

Magno juga masuk nominasi untuk Grand Awards untuk Desain for Asia Award yang digelar di Hongkong.Radio kayu buatan Singgih bermerek Magno lebih banyak diekspor ke Jepang, Jerman, dan America Serikat yang mencapai 300-400 unit per tahun.

Penghargaan Brit Insurance Design diumumkan 18 Maret, yang pemenangnya dipilih dalam satu panel terdiri sembialn orang yang menilai disain produk dari berbagai negara.

Selama 12 bulan dewan juri yang terdiri para disainer terkemuka memberikan penghargaan The Brit Insurance Design Awards 2009, di bidang arsitektur dimenangkan oleh New Oslo Opera House.

Semenntara untuk katagori fashion dimenangkan majalah Vogue Italia yang dalam terbitan Juli 2008, majalah Vogue, Italia menulis laporannya mengenai A Black Issue for Fashion. Majalah Vogue Italia mendedikasikan terbitannya bulan Juli khusus mengenai kisah sukses model yang berkulit warna hitam.

The Design Museum, yang dibentuk 25 tahun lalu memberikan penghargaan untuk katagori funiture diraih disain bangku MYTO, sedangkan katagori disain grapis diraih oleh poster yang mengambarkan Barack Obama Poster. Sedangkan katagori Transport dimenangkan Colombia's Line-J Medellin Metro Cable. Pemenang untuk disain produk kontemporer tersebut berasal dari berbagai negara seperti Indonesia, Colombia, USA, Norway dan Italia.

Ketujuh pemenang diundang ke London untuk mendapatkan penghargaan yang sangat prestigious Brit Insurance Design of the Year 2009,dalam acara makan malam.

Dewan juri terdiri atas pakar disain terkemuka diantaranya Alan Yentob, yang merasa sulit menentukan pemenang. Selain Alan dewan juri lainnya disainer senior yang juga kurator arsitektur Paola Antonelli, disainer lingkungan dan pendidik Karen Blincoe, serta arsitek Peter Cook, penulis kritisi fasion Sarah Mower. Produk pemenang disain dipamerkan di Design Museum, Shad Thames , London hingga 14 Juni mendatang.

Menurut dewan juri konsep dan disain yang dilakukan Singgih S Kartono mengunakan produk lokal dengan pengrajin dari daerah sekitar. Enterprenur asal Indonesian memiliki ide kreatif dibalik idenya membuat radio kayu yang membantu ekonomi daerah dengan mempekerjakan masyarakat di desa Kandangan.


http://antarajendeladunia.blogspot.com/2009/03/radio-kayu-magno.html

2009-12-10


Bagi pencinta batik cilacap, nama Euis kini tak asing lagi. Lewat perusahaannya, Rajasa Mas Batik, perempuan kelahiran Cirebon, 30 September 1975, ini kini menjadi salah satu perajin sukses batik cilacap. Produk batik buatan Euis bukan hanya dikenal di wilayah Cilacap dan sekitarnya. Sejumlah butik di Inggris dan Belanda pun kini ada yang memajang hasil karyanya. Korea, Singapura, dan Jepang pun
juga terambah pasarnya.

Awalnya, menjadi perajin batik cilacap tak pernah terpikirkan dibenak Euis. Maklum, ibu dua anak ini bukan asli Cilacap. Pernikahannya dengan Tonik Sudarmaji, pria asal Maos, Cilacap, yang membawanya ke kabupaten di ujung barat daya Jawa Tengah itu tahun 2000.
   
Di tengah kesibukannya sebagai guru di sejumlah sekolah di wilayah Cilacap, Euis mulai menekuni bisnis konveksi tahun 2001. Di bisnis tersebut, lulusan Jurusan Teknik Industri, Universitas Pasundan Bandung, ini memanjakan hobi lamanya mendesain beraneka macam pakaian. "Saya memulai usaha ya di rumah saya di Maos ini. Saya mendesain sendiri baju yang saya jual," tutur Euis, beberapa waktu yang lalu.

Usaha konveksi Euis terus berkembang. Sekitar tiga tahun silam, Euis ikut pameran internasional di Malaysia. Selain membawa pakaian hasil desainnya sendiri, Euis juga memamerkan beraneka macam batik khas Cilacap.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sejumlah pengunjung pameran tertarik untuk membeli produknya, termasuk seorang pengusaha pakaian di Rochester, Inggris. Mereka mulai memesan batik khas Cilacap dari Euis.

Awalnya, untuk memenuhi permintaan itu, Euis dibantu suaminya, kulakan batik di pasar-pasar di Cilacap, atau ke perajin batik Cilacap dan cukup memberikan desain yang diinginkan. Namun, setelah permintaan terus meluas dari pembeli di luar negeri, dia mulai berani membuat rumah batik sendiri. "Karena permintaan semakin banyak, saya pun Bismillah nekat membuat dan mendesain batik sendiri. Yang saya tonjolkan adalah nilai keetnisan batik cilacap. Alhamdulillah, desain
batik saya disukai," kata Euis.

Batik cilacap memiliki ciri pada pilihan warnanya yang berani, yaitu biru, hijau, atau kuning. Untuk motifnya, umumnya mengadopsi motif lingkungan sekitar, seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, dan benda-benda alam lainnya.

Kekhasan batik cilacap tersebut oleh Euis dipadukan dengan kreativitas desainnya yang fleksibel sehingga dapat diadopsi untuk berbagai jenis pakaian. Alhasil, permintaan pun semakin meningkat. Bukan hanya dari Inggris, tetapi juga dari Belanda, Korea, Singapura, dan Jepang. Bahkan, Euis berencana untuk mengembangkan pemasaran batik cilacapnya hingga ke Australia. Target pasar utamanya adalah kolektor batik internasional. "Tanggal 12-16 Juli, saya mau ke Australia untuk
memperkenalkan produk saya," ujar dia.

Dari usahanya itu, kini Euis bisa menciptakan lapangan kerja. Ada 15 karyawan yang berada di industri rumah tangganya. Selain itu, masih ada 80 orang tenaga kerja yang dia pekerjakan di luar tempat usahanyadengan sistem plasma.

"Saya akan terus berupaya agar batik cilacap makin dikenal dunia luar," tekad dia. (M Burhanudin)


http://batikita.multiply.com/journal

2009-12-10


Dalam tulisan Muka Pendet, Membongkar Karya Kriya TA Mahasiswa, Minggu, 29 Juni 2008. Pak Muka mempertanyakan kelanjutan karya-karya mahasiswa kriya yang mengarah pada seni murni, yang pada akhirnya setelah selesai studi lebih banyak “menguap” (menghilang) dari pada eksis dalam medan seni. Pak Muka juga mengeluhkan kenapa mahasiswa tidak menoleh ke desain yang pada realitasnya lebih dapat aplikatif dengan pangsa kerja. Dalam setiap tulisan tentang kriya yang penulis tampilkan di Bali Post pada tahun 2004-2006 sepertinya sudah cukup panjang lebar mengurai persoalan ini. Dalam sebuah tulisan tentang karya TA mahasiswa Kriya 2006 penulis pernah memberi perbandingan sebenarnya karya-karya murni yang dibuat mahasiswa kriya sangat bisa eksis delam percaturan seni rupa kontemporer. Seperti yang penulis contohkan dalam kutipan pameran “Object Hood” 2005 di Yogyakarta. Tulisan tersebut juga sempat ditanggapi oleh dosen Kriya Keramik Agus Mulyadi Utomo yang pada intinya mengatakan kondisi kriya di lembaga pendidikan tidak dapat diperbandingkan dengan term kurasi sebuah pameran.

Tiga tahun telah berlalu dan sekarang ketika terjadi Bom ke- 3 seni rupa kontemporer Indonesia, karya-karya yang menggarap object menjadi salah satu kecenderungan dari karya-karya perupa kontemporer. Kurator Amudjo J. Irianto mengatakannya sebagai “contingent object” dan yang mencetuskan kecenderungan itu adalah Kelompok Jendela di Yogyakarta, dan yang lebih penting lagi salah satu perupa yang inten di dalamnya adalah Handy Wirman jebolan jurusan Seni Kriya ISI Yogyakarta. Perupa lain yang namanya tidak asing dalam percaturan seni rupa kotemporer Indonesia adalah Hardiman Rajab dosen yang Kriya dai IKJ Jakarta yang juga membuat karya object berupa “koper tua” dari besi atau kayu. Atau yang lebih dekat lagi Wayan Sujana (Suklu) dosen seni rupa ISI Denpasar yang menggelar pameran dengan judul “Reading Object” di Gaya Artspace Ubud Bali tgl 26 Juli-26 Agustus 2008.

Kalau masih kurang silahkan cari di mesin pencari Google atau Yahoo, kita akan temukan puluhan dan bahkan ratusan karya-karya yang menampilkan intensitas Kriya. Kalau masih kurang kita bisa cari dengan kata kunci contemporary craft maka akan muncul puluhan alamat web yang mengetengahkan perkembangan contemporary craft (kriya kontemporer) dari di dunia dengan kecenderungan yang beragam baik karya dan juga perkembangan wacananya.


Begitu banyaknya informasi dan begitu terbukanya seni kontemporer seperti sekarang ini dengan berbagai kecenderungan. Mengapa realitas yang terjadi pada institusi kriya dalam perguruan tinggi seperti ISI Denpasar dan sebagian besar pada Institusi Kriya yang lain, menghadapi persoalan yang klasik. Hal ini membuktikan ada yang salah dalam sistem pendidikan kriya kita, dalam hemat penulis persoalannya bukan semata-mata pada kurikulum dengan ada undang-undang desentralisasi dan otonomi semua sistem dalam pemerintahan dan tentunya juga pendidikan, telah diberikan keleluasaan dalam menyusun kurikulum sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Bukankah kurikulum adalah pattern saja, yang menentukan bagaimana kurikulum itu memberikan pengaruh yang nyata bagi sistem pendidikan tergantung pada elemen-elemen penggeraknya. Dalam hal ini berada ditangan dosen sendiri sebagai mediator yang menjadi mediator sistem tersebut pada mahasiswa.


Keadaan akan menjadi lebih parah jika mahasiswanya tidak mencoba mencari wawasan di luar dan membangun daya kritis maka siap-siaplah menjadi korban dalam sistem ini. Dan kini hadir persoalan baru ketika Seni Kriya kini dijadikan rumpun induk yang mewadahi disiplin selain material kriya seperti kayu dan sebaginya, juga Seni Rupa dan Desain. Hal ini dapat dilihat dalam surat edaran yang dikeluarkan oleh DIKTI dalam kodifikasi rumpun keilmuan yang akan disertifikasi sebagai implementasi UU Guru dan Dosen. Melihat realitas yang berlangsung di Jurusan Seni Kriya ISI Denpasar, penulis merasa tergelitik untuk mengurai kembali persoalan Kriya ini sembari berharap munculnya kesadaran dari para pengajar Kriya untuk mencari jalan keluar dari persoalan eksoterik ini…!


http://forum.wawawewe.com/showthread.php?t=174

2009-12-09


Acara dimulai dengan Seminar bertema disain industri, di mana terdapat tiga pembicara, yakni: Mizan Allan De Neve (ketua Asosiasi Disain Produk Indonesia), Indra Gunawan (Manajer Produksi PT. New Armada), dan Singgih C. Kartono (Produsen Magno Radio). Lomba disain industri sendiri rencananya akan dilaksanakan setelah seminar, di mana peserta lomba terfavorit pilihan peserta seminar (sebanyak 5 tim) akan mempresentasikan disain yang dibuatnya. Kemudian akan ada penilaian dari kelima dewan juri, di mana tiga di antaranya adalah pembicara seminar di atas, sedang dua lagi adalah Dr. Susilo Adi, S.T., M.T. (Dosen UNDIP) dan Purnawan Adi, S.T., M.T. (Dosen UNDIP).

Acara yang memperebutkan hadiah total senilai Rp 3,75 juta ini diharapkan dapat merangsang kreativitas mahasiswa teknik industri terutama Teknik Industri UNDIP. Selain itu, diharapkan pula acara ini akan terselenggara tiap tahunnya sebagai “masterpiece” dari acara Himpunan Mahasiswa Teknik Industri UNDIP.

http://industri.ft.undip.ac.id/?p=827


2009-12-08


Dalam pergulatan mengenai asal muasal kriya Prof. Dr. Seodarso Sp dengan mengutif dari kamus, mengungkapkan “perkataan kriya memang belum lama dipakai dalam bahasa Indonesia; perkataan kriya itu berasal dari bahasa Sansekerta yang dalam kamus Wojowasito diberi arti; pekerjaan; perbuatan, dan dari kamus Winter diartikan sebagai ‘demel’ atau membuat”. (Prof. Dr. Soedarso Sp, dalam Asmudjo J. Irianto, 2000)

Sementara menurut Prof. Dr. I Made Bandem kata “kriya” dalam bahasa indonesia berarti pekerjaan (ketrampilan tangan). Di dalam bahasa Inggris disebut craft berarti energi atau kekuatan. Pada kenyataannya bahwa seni kriya sering dimaksudkan sebagai karya yang dihasilkan karena skill atau ketrampilan seseorang”. (Prof. Dr. I Made Bandem, 2002)

Dari tiga uraian ini dapat ditarik satu kata kunci yang dapat menjelaskan pengertian kriya adalah; kerja, pekerjaan, perbuatan, yang dalam hal ini bisa diartikan sebagai penciptaan karya seni yang didukung oleh ketrampilan (skill) yang tinggi.

Seperti telah disinggung diawal bahwa istilah kriya digali khasanah budaya Indonesia tepatnya dari budaya Jawa tinggi (budaya yang berkembang di dalam lingkup istana pada sistem kerajaan). Denis Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: Silang budaya, menyatakan ‘istilah kriya yang diambil dari kryan menunjukkan pada hierarki strata pada masa kerajaan Majapahit, sebagai berikut; “Pertama-tama terdapat para mantri, atau pejabat tinggi serta para arya atau kaum bangsawan, lalu para kryan yang berstatus kesatriya dan para wali atau perwira, yang tampaknya juga merupakan semacam golongan bangsawan rendah’. (Denis Lombard dalam Prof. SP. Gustami, 2002)

Menyimak pendapat Prof. SP. Gustami yang menguraikan bahwa; seni kriya merupakan warisan seni budaya yang adi luhung, yang pada zaman kerajaan di Jawa mendapat tempat lebih tinggi dari kerajinan. Seni kriya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan dan masyarakat elit sedangkan kerajinan didukung oleh masyarakat umum atau kawula alit, yakni masyarakat yang hidup di luar tembok keraton. Seni kriya dipandang sebagai seni yang unik dan berkualitas tinggi karena didukung oleh craftmanship yang tinggi, sedangkan kerajinan dipandang kasar dan terkesan tidak tuntas. Bedakan pembuatan keris dengan pisau baik proses, bahan, atau kemampuan pembuatnya.

Lebih lanjut Prof. SP. Gustami menjelaskan perbedaan antara kriya dan kerajinan dapat disimak pada keprofesiannya, kriya dimasa lalu yang berada dalam lingkungan istana untuk pembuatnya diberikan gelar Empu. Dalam perwujudannya sangat mementingkan nilai estetika dan kualitas skill. Sementara kerajinan yang tumbuh di luar lingkungan istana, si-pembuatnya disebut dengan Pandhe. Perwujudan benda-benda kerajinan hanya mengutamakan fungsi dan kegunaan yang diperuntukkan untuk mendukung kebutuhan praktis bagi masyarakat (rakyat). (Prof. SP. Gustami, 2002) Pengulangan dan minimnya pemikiran seni ataupun estetika adalah satu ciri penanda benda kerajinan.

Pemisahan yang berdasarkan strata atau kedudukan tersebut mencerminkan posisi dan eksistensi seni kriya di masa lalu. Seni kriya bukanlah karya yang dibuat dengan intensitas rajin semata, di dalamnya terkandung nilai keindahan (estetika) dan juga kualitas skill yang tinggi. Sedangkan kerajinan tumbuh atas desakan kebutuhan praktis dengan mempergunakan bahan yang tersedia dan berdasarkan pengalaman kerja yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari.

Kembali ditegaskan oleh Prof. SP. Gustami: seni kriya adalah karya seni yang unik dan punya karakteristik di dalamnya terkandung muatan-muatan nilai estetik, simbolik, filosofis dan sekaligus fungsional oleh karena itu dalam perwujudannya didukung craftmenship yang tinggi, akibatnya kehadiran seni kriya termasuk dalam kelompok seni-seni adiluhung (Prof. SP.Gustami, 1992:71).

Uraian tadi menyiratkan bahwa kriya merupakan cabang seni yang memiliki muatan estetik, simbolik dan filosofis sehingga menghadirkan karya-karya yang adiluhung dan munomental sepanjang jaman. Praktek kriya pada masa lalu dibedakan dari kerajinan, kriya berada dalam lingkup istana (kerajaan) pembuatnya diberi gelar Empu. Sedangkan kerajinan yang berakar dari kata “rajin” berada di luar lingkungan istana, dilakoni oleh rakyat jelata dan pembuatnya disebut pengerajin atau pandhe.

Dari beberapa pendapat yang telah dibahas sebelumnya menjelaskan bahwa wujud awal seni kriya lebih ditujukan sebagai seni pakai (terapan). Praktek seni kriya pada awalnya bertujuan untuk membuat barang-barang fungsional, baik ditujukan untuk kepentingan keagamaan (religius) atau kebutuhan praktis dalam kehidupan manusia seperti; perkakas rumah tangga. Contohnya dapat kita saksikan pada dari artefak-artefak berupa kapak dan perkakas pada jaman batu serta peninggalan-peninggalan dari bahan perunggu pada jaman logam berupa; nekara, moko, candrasa, kapak, bejana, hingga perhiasan seperti; gelang, kalung, cincin. Benda-benda tersebut dipakai sebagai perhiasan, prosesi upacara ritual adat (suku) serta kegiatan ritual yang bersifat kepercayaan seperti; penghormatan terhadap arwah nenek moyang.

Masuknya agama Hindu dan Budha memberikan perubahan tidak saja dalam hal kepercayaan, tetapi juga pada sistem sosial dalam masyarakat. Struktur pemerintahan kerajaan dan sistem kasta menimbulkan tingkatan status sosial dalam masyarakat. Masuknya pengaruh Hindu–Budha di Indonesia terjadi akibat asimilasi serta adaptasi kebudayaan Hindu-Budha India yang dibawa oleh para pedagang dan pendeta Hindu-Budha dari India dengan kebudayaan prasejarah di Indonesia. Kedua sistem keagamaan ini mengalami akulturasi dengan kepercayaan yang sudah ada sebelumnya di Indonesia yaitu pengkultusan terhadap arwah nenek moyang, dan kepercayaan terhadap spirit yang ada di alam sekitar. Kemudian kerap tumpang tindih dan bahkan terpadu ke dalam pemujaan-pemujaan sinkretisme Hindu-Budha Indonesia. (Claire Holt diterjemahkan oleh RM. Soedarsono, 2000)

Tumbuh dan berkembangnya kebudayan Hindu-Budha di Indonesia kemudian melahirkan kesenian berupa seni ukir dengan beraneka ragam hias, dan patung perwujudan dewa-dewa. Dalam sistem sosial kemudian lahir sistem pemerintahan kerajaan yang berdasarkan kepada kepercayaan Hindu seperti kerajaan Sriwijaya di Sumatra, kerajaan Kutai di Kalimantan, kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat, Mataram Kuno Jawa Tengah. Hingga kerajaan Majapahit di Jawa Timur dengan maha patih Gajah Mada yang tersohor, yang kemudian membawa pengaruh Hindu ke Bali. Seni ukir tradisional masih diwarisi hingga saat ini.

Peran seni kriyapun menjadi semakin berkembang tidak saja sebagai komponen dalam hal kepercayaan/agama, namun juga menjadi konsumsi golongan elit bangsawan yaitu sebagai penanda status kebangsawanan. Kondisi tersebut menjadikan kriya sebagai seni yang bersifat elitis karena menduduki posisi terhormat pada masanya, berbeda dengan kerajinan yang cenderung tumbuh pada kalangan masyarakat biasa atau golongan rendah.

Akan tetapi keadaannya berbeda pada masa modern, dimana tingkatan sosial seperti pada masa kerajaan yang disebut “kasta” sudah tidak lagi eksis. Kalaupun ada tingkatan sosial kini tidak lagi berdasarkan “kasta” atau kebangsawanan yang dimiliki oleh seseorang, akan tetapi kemapanan ekonomi kini menjadi penanda bagi status seseorang. Artinya tarap ekonomi yang dimiliki seseorang dapat membedakan posisi mereka dari orang lain, secara sederhana kekuasan sekarang ditentukan oleh kemampuan ekonomi yang dimiliki seseorang. Dalam sistem masyarakat modern kondisinya telah berubah kaum elit yang dulunya ditempati oleh kaum bangsawan (ningrat), sekarang digantikan kalangan konglomerat (pemilik modal). Kondisi ini membawa dampak bagi pada posisi kriya, karena kini kriya mulai kehilangan struktur sosial yang menopang eksistensinya seperti pada masa lalu.

Situasi ini menjadikan kriya tidak lagi menjadi seni yang spesial karena posisi terhormatnya di masa lalu kini sudah terancam tidak eksis lagi, kriya kini menjadi sebuah artefak warisan masa lalu. Terlebih lagi dalam industri budaya seperti sekarang kedudukan kriya kini tidak lebih sebagai obyek pasar, yang diproduksi secara masal dan diperjualbelikan demi kepentingan ekonomi. Kriya kini mengalami desakralisasi dari posisi yang terhormat di masa lalu, yang adiluhung merupakan artefak yang tetap dihormati namun sekaligus juga direduksi dan diproduksi secara terus-menerus.

Kehadiran kriya pada jenjang pendidikan adalah sebuah upaya mengangkat kriya dari hanya sebagai artefak, untuk menjadikannya sebagai seni yang masih bisa eksis dan terhormat sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Inilah tugas berat insan kriya kini. Dalam perkembangan selanjutnya sejalan dengan perkembangan jaman, konsep kriyapun terus berkembang. Perubahan senantiasa menyertai setiap gerak laju perkembangan zaman, praktek seni kriya yang pada awalnya sarat dengan nilai fungsional, kini dalam prakteknya khususnya di akademis seni kriya mengalami pergeseran orientasi penciptaan. Kriya kini menjelma menjadi hanya pajangan semata dengan kata lain semata-mata seni untuk seni. Pergerakan ini kemudian melahirkan kategori-kategori dalam tubuh kriya, kategori tersebut antara lain kriya seni, dan desain kriya.

http://yogaparta.wordpress.com/2009/06/14/pengertian-seni-kriya/


2009-12-08

Total 120 Articles
ARTICLE
Arti Hadiah Pemberian Pria [2010-10-05]

Seringkali wanita bertanya-tanya setelah diberi hadiah oleh pasangannya. Padahal, hadiah yang diberikan oleh pria sebenarnya berdasarkan pertimbangan yang sangat simpel. Oleh karena itu mereka kerap menjadi bingung, apa yang salah dengan hadiah yang diberikannya?

Arti Sebuah Hadiah [2010-09-24]

Hadiah dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan ucapan dan permintaan ma’af. Ia mampu menghilangkan kabut hati, memadam kan api permusuhan, menenangkan kemarahan dan melenyapkan rasa iri hati dan kedengkian. Ia dapat mendatangkan kecintaan dan persahabatan setelah sekian lama tercerai-berai.


Tenun Indonesia Go International [2010-04-11]

GUCCI dan Christian Dior berniat untuk menggunakan tenun Indonesia dalam varian produknya. Sektor industri tenun di Tanah Air akan kembali terangkat setelah beberapa tahun ini mengalami penurunan produksi. Bak gayung bersambut, pemerintah pun langsung menindaklanjuti kerja sama dengan dua label kenamaan dunia ini. Syaratnya, perlu ada label khusus untuk setiap produk yang menggunakan tenun Indonesia sehingga nama dan kualitas produk domestik juga ikut dikenal secara global.


Alami yang Disuka [2010-03-11]

Batik Madura mulai dilihat sebagai potensi Tanjung Bumi, dan Madura secara umum. Beberapa tahun silam, di Tanjung Bumi juga pernah didirikan Unit Pelayanan Teknik Batik (UPT Batik) oleh dinas Perindustrian Kabupaten Bangkalan. Sebab banyaknya pengrajin batik di Tanjung Bumi. Dalam perjalanannya UPT Batik itu berfungsi sebagai wadah dari hasil karya para perajin. Sekaligus sebagai mediator antara perajin dan pembeli. Pada saat itu semua batik hasil para perajin di kecamatan tersebut di kumpulkan di UPT tadi.

Merajut Waktu Menjalin Makna [2010-03-11]

Kain tenun dan hasil tekstil lainnya adalah suatu warisan kekayaan peninggalan para leluhur bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Hampir seluruh kelompok etnis di wilayah Nusantara hingga saat ini masih melakukan pembuatan tenun, baik secara turun temurun maupun dalam wilayah industri kecil dan menengah. Hasil-hasil tenun dari Nusantara juga menjadi salah satu bentuk artefak budaya yang paling menyebar dihampir seluruh museum dibelahan dunia. Kekaguman pada corak atau motif dan pola-pola yang rumit namun indah serta halus dan mempunyai kandungan makna budaya menjadikan para pencinta kain tenun dan peneliti diseluruh dunia mengakui bahwa estetika kain tenun di Indonesia memang begitu beragam dan bernilai budaya tinggi.

[View All]
LINKS
Leoniko
Nusansifor
RANDOM GALLERY


SMALL FUNCTIONAL COMPASS CS-01




HOME | ABOUT US | SERVICES | GALLERY | ARTICLE | HOW TO BUY | COORPORATE GIFT ADVISOR | CONTACT US

© Copyright 2007 IDEGIFT.COM Designed by Leoniko