We would be happy to provide custom-made design to meet your corporate gift needs. Please contact our corporate gift advisor.



Kriya bisa "meminjam" banyak pengetahuan dalam seni rupa murni seperti cara mematung atau mengukir untuk menghasilkan produk, namun tetap dengan tidak terlalu berkonsentrasi kepada kepuasan emosi seperti lazim terjadi misalnya pada karya lukis dan patung. Kriya juga lebih sering mengikuti tradisi daripada penemuan yang sering ditemukan secara individu oleh seorang perupa.


http://id.wikipedia.org/wiki/Kriya

2009-12-07


Singgih adalah sosok yang mewakili berkembangnya kesadaran bahwa batas negara dan daya tarik kota besar makin tak relevan sebagai determinan berkembangnya industri kerajinan. Internet memungkinkan Singgih memasuki pasar dunia. ”Sayang, kapasitas produksi saya belum sebesar itu. Apalagi saya juga melayani permintaan dari Jepang yang sudah rutin sejak tiga tahun lalu. Saya minta waktu setahun untuk memenuhi pesanan itu (dari AS). Bagaimanapun saya senang, konsep saya diterima dan mendapat kepercayaan,” ujarnya, saat ditemui di ”pabrik”-nya,

Piranti Works, di Desa Kandangan, Temanggung.
Ia menunjukkan tiga model radio dari kayu serta peralatan kantor dari kayu, seperti pembuka surat, penjepit kertas, stapler, dan kompas berlapis kayu. ”Radio kayu memang karya akhir saya ketika kuliah di seni rupa ITB. Saya hanya membuat rangka dan kemasan. Peralatan elektronik di dalamnya saya pakai dari Panasonic, yang memenuhi syarat ketat ramah lingkungan untuk pasar ekspor,” ujarnya.

Radio kayu yang diberi merek Magno itu, Rabu (8/10), diumumkan menjadi pemenang Good Design Award 2008 di Jepang untuk kategori Innovation/Pioneering & Experimental Design. Magno juga masuk nominasi untuk Grand Awards untuk Desain for Asia Award yang digelar di Hongkong.

Awalnya Singgih membeli radio Panasonic di toko, lalu dipreteli dan dimasukkan dalam radio kayu. ”Saya sering memborong radio di Temanggung, sampai bertemu Pak Rachmat Gobel (Preskom Panasonic Indonesia) pada pameran produksi ekspor. Sejak itu saya membeli langsung peralatan elektronik dari Panasonic, tidak lagi membeli radio di toko,” katanya.

Radio kayu buatan Singgih bermerek Magno lebih banyak diekspor ke Jepang, Jerman, dan AS. ”Saya kirim 300-400 unit radio ke Jepang setahun. Pasar di Jerman baru kami tembus. Harga per unit 49-56 dollar AS, tapi di Jepang dijual 17.500 yen dan di Jerman 160-240 euro. Di dalam negeri saya jual Rp 1,1 juta-Rp 1,3 juta per unit. Agak mahal, karena ini benda koleksi yang personal, bukan komoditas,” katanya.

Radio buatan Singgih itu bisa dilihat di berbagai media gadget atau website. Setelah pameran demi pameran dan berbagai lomba desain diikuti, pemasaran lewat internet ia lakukan dan contoh produk dikirim ke berbagai pihak selama setahun. ”Saya menang lomba desain di Seattle, AS, tahun 1997, lalu seorang desainer Jepang tertarik dan memasarkan produk ini sejak 2004. Sejak itulah produk Magno makin populer.”

http://mitrafm.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=72:singgih-radio-kayu-dan-kehidupan-&catid=34:seputar-mitra&Itemid=115
2009-12-06


Berkat karya radio ini, Singgih berhasil meraih penghargaan International Design Resource Association (IDRA) di Seattle Amerika Serikat pada 1997 lalu. Kerajinan ini jawara untuk kriteria produk dengan bahan yang bisa didaur ulang, memberi potensi besar terhadap proses daur ulang, dan memberi nilai lebih terhadap produk. Radio retro ini bisa disetel untuk AM atau FM, juga untuk MP3 dan dua band gelombang pendek.

Singgih mulai merintis usahanya itu sejak tahun 1995 lalu. Si penggagas radio kayu asal Desa Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah ini ingin mengubah pandangan orang bahwa kerajinan tangan tidak selalu identik dengan seni atau tradisional, tapi juga memasukkan industri elektronik.

Selain meraih penghargaan dari IDRA, radio kayu ‘made in’ Singgih tahun ini juga berhasil meraih penghargaan dari Design For Asia Award 2008.


Dunia kayu memang sudah melekat pada diri pria satu ini, sebelum ia menekuni bangku kuliahnya di ITB. “Saya tidak tahu persis, apa faktor kedekatan saya pada alam dan tumbuhan karena lingkungan alam di sekitar tempat saya tinggal di Temanggung banyak ditumbuhi pohon sengon dan sonokeling. Kayu merupakan material yang luar biasa hidup, berkesinambungan dan terbatas,” ujar Singgih saat ditemui Bangka Pos Group, pertengahan Oktober lalu.

Perjuangannya dimulai sejak ia akan berangkat kuliah ke ITB. Sang ayah tak sanggup membiayainya secara penuh. Singgih sempat nekad bertanya pada ayahnya, berapa biaya yang bisa diberikan oleh sang ayah. “Sisanya saya yang akan menanggungnya,” ujar Singgih.

Selesai menekuni masa belajarnya di Bandung, Singgih Kartono justru kembali ke tanah kelahirannya di Temanggung.

Materi kayu tetap jadi pilihan Singgih untuk mencari mata pencaharian. Tidak heran bila alumnus ITB ini sering modar mandir di sekitar tempat tinggalnya mengendarai Vespa milik ayahnya, hanya untuk mencari dan mengumpulkan potongan-potongan kayu sebagai bahan materi pembuatan produknya.

Singgih lalu merintis usaha di rumahnya yang diubah menjadi workshop. Sementara untuk pelaksanaan bisnis, Singgih terpaksa mengkontrak ruang tamu tetangganya sebagai tempat transaksi bisnisnya.

Awal mula Singgih merintis usahanya pada usaha produk-produk peralatan kantor, seperti stepler kayu, tempat selotipe, kotak peralatan. Baru tahun 2005 keinginan membuat kotak radio dilakukannya.

Jualan Lewat Internet

Semua produk kayu hasil produksi Singgih ditawarkannya melalui jalur internet, mengingat bila dilakukan secara langsung, banyak kendala yang harus dihadapi. Dengan internet, buyer (pembeli) dapat langsung mengkontak dan sekaligus datang untuk membeli produknya.

Diakui Singgih, setiap pembeli produk radio kayunya harus tetap menggunakan namanya serta merek usahanya, Magno.

“Saya tidak mengizinkan pembeli radio kayu produk saya mengganti dengan nama lain,” kata Singgih.

Radio kayu Singgih dijual dari kisaran 80, 58 dan 47,5 dolar AS untuk ukuran radio kayu kecil. Bahkan di Amerika, harga radio yang dibandrol dengan harga 47,5 dolar ini mampu menembus angka 250 unit per bulan.

Perusahaan milik Singgih bernama Magno, memulai merintis usaha pertamanya membuat tempat kaca pembesar dan tempat kompas dari kayu. Kini Magno telah memiliki 33 tenaga pekerja dari Desa Kandangan. Kapasitas produksinya 250 hingga 300 unit radio per bulan. Dari jumlah itu, sekitar 80 persen produknya diekspor ke Amerika Serikat, sisanya masing-masing 15 persen ke kawasan Eropa dan Jepang.

Selain melakukan kegiatan bisnisnya dari bahan kayu, tak lupa setiap 2 persen persen dari hasil penjualan produk-produk radio maupun peralatan kantor disisihkan Singgih untuk pembibitan kayu sengon maupun sonokeling. Singgih tahu betul akan ekosistem alam, setiap dia menggunakan pohon untuk memproduksi, maka ia segera menanam kembali penggantinya.

Mau tahu berapa besar omzetnya? Dari 300 radio kayu yang dijual hingga 250 dolar AS, Singgih mampu memperoleh Rp 750 juta per bulan. Kini keuntungannya terus berlipat seiring terus berkembangnya usaha ini. Bahkan Singgih mengaku jumlah permintaan produk buatannya berkisar 500 hingga 600 unit per bulan.

Singgih pantas diacungi jempol. Selain mampu menghidupi kebutuhan keluarga, usahanya turut membantu kehidupan tetangga yang ikut bekerja memproduksi radio kayunya. Singgih hingga saat ini tidak pernah meraih penghargaan dari negerinya sendiri, justru dari dunia internasional memberikan apresiasi terhadap buah tangan orang asli Indonesia ini.


http://www.sripoku.com/view/1375/insinyur_yang_laku_jualan_radio_kayu


2009-12-06


Rupanya sisi inilah yang antara lain mengilhami Singgih S. Kartono (40), alumnus Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB), ketika membuat radio dari bahan kayu (wooden radio).

Radio ini sangat menampilkan kesederhanaan, tidak canggih untuk ukuran era sekarang. Bayangkan saja, tidak ada skala frekuensi. Dan, yang terlihat di bagian depan cuma beberapa tombol putar, seperti untuk suara dan gelombang.

"Pada intinya, bagaimana membuat orang akrab dengan radio ini. Membawa pada basic apa yang dibutuhkan," ujar Singgih saat berbicara di Rumah Makan "Dapoer" Kebayoran Baru, Jakarta, belum lama ini.

Nuansa "tempo doeloe" memang begitu terasa ketika melihat perangkat satu ini. Warna kayunya pun asli dan hanya dipelitur. Sehingga, tidak mengherankan apabila diingatkan, pemilik harus rajin memelihara, seperti halnya punya furnitur. Yang menarik lagi, proses pembuatan radio kayu berbentuk kotak berukuran tinggi sekitar 15 s.d. 20 senti meter ini juga bukan di pabrik modern --seperti produk elektronik umumnya, tetapi di bengkel di Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah. Menurut catatan, radio versi pertama dibuat pada 2005, dan sekarang rata-rata produksi berkisar 200 s.d. 300 unit per bulan.

Konon, dari produksinya itu, ribuan radio yang diberi label "Magno" itu telah dinikmati warga di Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat (AS). Disadari, radio kayu ini menampilkan sebuah karya seni yang bernilai tinggi, bukan sekadar perangkat.

 


http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=39908




2009-12-05


Kebutuhan Indonesia akan transfer teknologi pada dasarnya sarat dengan cross-cutting issues dimana memerlukan pembangunan sistem yang mempunyai goal (target) yangg jelas dan  kesediaan SDM tangguh di semua sektor dan harus ditunjukkan dgn indikator angka statistik. Goal tersebut harus link dan berkorelasi dgn berbagai program pemerintah di sektor lain supaya tidak terjadi kerja sendiri-sendiri, sehingga kondisi cost efficient bisa tercapai. Dicontohkan pula oleh senpai-tachi (senior) Persada Pusat bahwa sebuah seminar atau workshop harus punya goal yang jitu, misalnya pernah diadakan Workshop Design Power di Indonesia, kemudian difollow up oleh pengrajin di Jogya dengan memproduksi radio kayu memakai bahan baku kayu sisa, dijual di pasar Jepang dengan harga 17,500 Yen dan juga telah dipamerkan di eco-product.  

Dalam acara ramah tamah tersebut, Ketua Persada Perwakilan Jepang Dr. Pudjiatmoko memberikan gambaran kondisi Persada Perwakilan Jepang saat ini dan mengharapkan dukungan serta peningkatan pertukaran informasi dengan Persada Pusat, disertai laporan rencana kerja bidang pendidikan oleh Dr. Bambang Rudyanto (dosen senior Wako Univ. Tokyo) antara lain mencakup pengelolaan secara total salah satu program studi di Universitas Darma Persada http://www.unsada.ac.id/, membuka Program Studi Informasi Bisnis, membawa mahasiswa Jepang yang ingin homestay di Indonesia serta yg terkait bidang teknologi melalui TV lokal di indonesia. 

Pemaparan dilanjutkan oleh koordinator bidang teknologi, Dr. Fauzy Ammari (Director Working Group for Technology Transfer (WGTT), http://wgtt.org/ ) yang memaparkan rencana kerjasama dengan Gifu Prefectural Government (Kencho) berupa rencana acara 3 hari berturut di daerah Jepang Tengah dalam bulan Oktober atau November 2008 dalam rangka 50 tahun hubungan bilateral Indonesia Jepang yang dirilis oleh KBRI dan MOFA (Departemen Luar Negeri Jepang). Hari pertama akan diisi dengan seminar transfer teknologi yang diisi oleh dua pihak dimana JA akan menjadi narasumber utama, tema yang diambil adalah Learning the Strategy of JA Group in Gifu to Strengthen Farmer Groups in Indonesia. Di hari kedua berupa site visit ke pusat-pusat produksi milik JA di Chubu Area. Sedangkan hari ketiga hanya bersifat internal pihak Indonesia berupa evaluasi dan penyiapan rekomendasi serta kelanjutan dari acara ini. Diharapkan beberapa pemerintah provinsi di Indonesia akan mengirimkan utusannya dalam kegiatan ini. 

Pihak PPI Jepang sebagai undangan juga memberikan beberapa usulan dan rencana temu ilmiah tahun 2008 yang akan didesain lebih terbuka untuk keikutsertaan pihak di luar dunia akademik serta mengharapkan partisipasi Persada pusat. (f)


http://wgtt.org/index.php?option=com_content&view=article&id=46:radio-kayu-hoshonin-dan-nilai-tawar-indonesia-di-mata-jepang&catid=1:latest


2009-12-04

Total 120 Articles
ARTICLE
Arti Hadiah Pemberian Pria [2010-10-05]

Seringkali wanita bertanya-tanya setelah diberi hadiah oleh pasangannya. Padahal, hadiah yang diberikan oleh pria sebenarnya berdasarkan pertimbangan yang sangat simpel. Oleh karena itu mereka kerap menjadi bingung, apa yang salah dengan hadiah yang diberikannya?

Arti Sebuah Hadiah [2010-09-24]

Hadiah dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan ucapan dan permintaan ma’af. Ia mampu menghilangkan kabut hati, memadam kan api permusuhan, menenangkan kemarahan dan melenyapkan rasa iri hati dan kedengkian. Ia dapat mendatangkan kecintaan dan persahabatan setelah sekian lama tercerai-berai.


Tenun Indonesia Go International [2010-04-11]

GUCCI dan Christian Dior berniat untuk menggunakan tenun Indonesia dalam varian produknya. Sektor industri tenun di Tanah Air akan kembali terangkat setelah beberapa tahun ini mengalami penurunan produksi. Bak gayung bersambut, pemerintah pun langsung menindaklanjuti kerja sama dengan dua label kenamaan dunia ini. Syaratnya, perlu ada label khusus untuk setiap produk yang menggunakan tenun Indonesia sehingga nama dan kualitas produk domestik juga ikut dikenal secara global.


Alami yang Disuka [2010-03-11]

Batik Madura mulai dilihat sebagai potensi Tanjung Bumi, dan Madura secara umum. Beberapa tahun silam, di Tanjung Bumi juga pernah didirikan Unit Pelayanan Teknik Batik (UPT Batik) oleh dinas Perindustrian Kabupaten Bangkalan. Sebab banyaknya pengrajin batik di Tanjung Bumi. Dalam perjalanannya UPT Batik itu berfungsi sebagai wadah dari hasil karya para perajin. Sekaligus sebagai mediator antara perajin dan pembeli. Pada saat itu semua batik hasil para perajin di kecamatan tersebut di kumpulkan di UPT tadi.

Merajut Waktu Menjalin Makna [2010-03-11]

Kain tenun dan hasil tekstil lainnya adalah suatu warisan kekayaan peninggalan para leluhur bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Hampir seluruh kelompok etnis di wilayah Nusantara hingga saat ini masih melakukan pembuatan tenun, baik secara turun temurun maupun dalam wilayah industri kecil dan menengah. Hasil-hasil tenun dari Nusantara juga menjadi salah satu bentuk artefak budaya yang paling menyebar dihampir seluruh museum dibelahan dunia. Kekaguman pada corak atau motif dan pola-pola yang rumit namun indah serta halus dan mempunyai kandungan makna budaya menjadikan para pencinta kain tenun dan peneliti diseluruh dunia mengakui bahwa estetika kain tenun di Indonesia memang begitu beragam dan bernilai budaya tinggi.

[View All]
LINKS
Leoniko
Nusansifor
RANDOM GALLERY


BATIK NOTES




HOME | ABOUT US | SERVICES | GALLERY | ARTICLE | HOW TO BUY | COORPORATE GIFT ADVISOR | CONTACT US

© Copyright 2007 IDEGIFT.COM Designed by Leoniko