Di bagian belakang ada kancing sisip
untuk membuka kotak tempat baterai. Benar-benar mengingatkan pada
radio tahun 1960-an, minus layar pencari frekuensi. Ikonnya radio
yang peralatan elektroniknya dari Panasonic dan dapat dihubungkan
dengan iPod dan MP3 lain.WOODEN RADIOn(1)
Meski begitu, radio ini adalah karya
yang mampu membaca semangat zaman dan sejalan dengan era green
planet. Perancangnya, Singgih Susilo Kartono (40), membuat radio itu
dari kayu dan juga menanam pohon calon bahan baku pembuat radio,
yaitu sonokeling dan pinus. Semua dia lakukan dari Kandangan, sekitar
delapan kilometer di utara Temanggung, Jawa Tengah.
“Indonesia dikenal dengan hutan
tropisnya. Harus ada produk kayu dari Indonesia yang menjadi ikon
dunia. Tampaknya usaha saya mulai berhasil. Kalau mencari wooden
radio di internet, Magno keluar di urutan pertama,” kata lulusan
desain produk Institut Teknologi Bandung, 1992.
Prinsip keseimbangan alam dari
Sigit—sejalan dengan filosofi Green Business, Green People, and
Green Planet–layak diancungi jempol. “Apa yang telah saya ambil
dari alam akan saya usahakan untuk dikembalikan. “
Caranya? Karena lingkup usahanya
perkayuan, maka dia selalu melakukan penanaman kembali. “Saya
melakukan pembibitan jenis-jenis pohon yang saya gunakan dan saat
musim hujan saya bagikan secara gratis kepada masyarakat.” Ternyata
jumlah yang dibagikannya lebih banyak daripada kayu yang digunakan.
Produk radio kayu Singgih ini telah
mampu menembus pasar internasional lewat perusahaan, Piranti Works
Magno, yang didirikan pada 2004. Produknya juga dikenal sebagai brand
green product.
“Fokus pasar saya adalah pasar
ekspor. Produknya antara lain radio kayu dan stationery dari kayu.
Setiap bulan, saya menghasilkan 200-250 radio, sekitar 95% diserap
pasar AS, Kanada, Eropa, dan Jepang.”
Sejak awal, Singgih memang mensasar
pasar ekspor lewat internet. Prototipe radio Magno yang memenangi
juara dua kompetisi desain International Design Resource Association
di Seattle pada 1997 menarik perhatian mitra penyelenggara pameran
dari Jepang.
Karena itu, sejak pertengahan 2005
radionya dipesan profesor desain di Jepang walau jumlahnya kecil.
Itu menjadi lompatan besar pertama
Singgih karena pembeli di Jepang memasukkan Magno di dalam situs
internet www.ecomiyage.com. “Itu toko internet pertama saya.
Setelah ada di internet Magno jadi mendunia,” kata Singgih.
Hasil kreativitas dan sukses Singgih
sudah menuai berbagai penghargaan seperti Indonesia Good Design
Selection 2005 dan 2006, DFA Grand Award 2008 Design for Asia Award
Hong Kong Design Center, dan Japan Good Design Award 2008.
2009-12-04 | | |
Tetapi bukan soal ramah lingkungan itu
saja yang menarik. Dengan tampilan yang sangat wooden Magno bisa
sangat berharga untuk dimiliki. Bentuknya unik, sangat klasik dengan
warna kayu yang alami. Secara fisik pun Magno begitu halus,
permukaannya begitu sempurna. Tak salah jika radio Magno bisa
memenangkan kompetisi itu yang kemenangannya didaulat oleh para
blogger.
Pengakuan atas desainnya bukan cuma
itu. Pada tahun 1997 Magno sudah meraih penghargaan International
Design Resource Award di Seattle, Amerika Serikat. Itu bisa disebut
titik tolak melambungnya nama Magno. Setelah itu bebeapa penghargaan
lain ia dapat pula. Sampai saat ini Magno sudah meraih lima
penghargaan.
Sukses di ajang kompetisi diikuti pula
sukses di sektor bisnisnya. Sejak tahun 2004 lalu Singgih mulai
mengembangkan Magno secara masal. Dengan bermodalkan Rp 20 jutaan,
kini produksi Magno sudah mencapai 250 radio kayu per bulan dengan
omset sekitar US 15.000. Magno diekspor ke beberapa negara seperti
Amerik Serikat, Jepang, Kanada, dan beberapa negara Eropa.
2009-12-03 | | | | |
This 'happy team' was actually a
'coincidence team'. It was a chat over a cofffee with Jacqueline
about a month ago. She told me that she never went to Frankfurter
Fair. As she is in fashion business, her regular Fair to visit is of
course the Düsseldorfer Fashion Fair. She asked me whether
Frankfurter Fair is interesting to visit. I told her that the best
one is to visit Ambiente on February, though they do have a smaller
fair on August. Then somehow we talked about the possibillity to go
there together.
We almost forgot that conversation,
until a week before the fair we talked on the phone and talked again
about going to Tendence. At the same time, came an e-mail From
Singgih telling me that his german business partner exhibited
Singgih's Magno Radio on the fair.
So the plan became real. Adding Miranti
in our 'team' as she also had a plan to make some report for the fair
and anyway I had the feeling to drag her to make some report about
Magno Radio, as it is a result of a great concept and it is not in
anyway a regular indonesian product presented in the fair. Not even
together with other indonesian stands that is regularly arranged by
EKONID.
I was talking to Oliver, Singgih's
partner, that was very enthusiastic about Singgih's product and
consequently looking only for buyers who could understand and could
apply Singgih's concept. My respect, Oliver!
WASSERSPINNE
Eating 'Bami goreng' and 'Mi Nudel'
that tasted like boiled noodles with salt only in one of the fair's
bistro, we were craving for the original asian food, the best would
be indonesian, of course.
I remembered that I ate in 'Wayang'
somewhere in Frankfurt, and asked Miranti whether she could call her
contact in the consulate to ask about the address I forgot. To our
dissapoinment, the restaurant does not exist anymore. Though the
contact told her that there is a malaysian chinese serving some
chinese food that is similar like in indonesia.
We went around 'Münchenerstr' as the
given address from the contact, without finding the restaurant. Out
of desperation, we decided to park near Münchenerstr and almost went
into the 'Sze Chuan restaurant' which appearance, including the
pictures of the food was very inviting.
Though Miranti was still willing to
look for the restaurant her contact told her. So, half hearted,
hungry, with sore feet after 8 hours walking in the Fair, we decided
to agree to try finding it.
We saw the restaurant with the
mentioned name after a while walking in the area. It was definately
not in the Münchenerstr! Though for our confusion, there was another
restaurant with the same name, in the same street, just the opposite!
After calling again Miranti's contact,
we went to the first restaurant. Hearing 'Apakaba?' from the
waitress, we were sure that it was the right one.
Panicking to order 'Nasi goreng ikan
asin', 'Kangkung belacan', 'Bakso ayam kuah', 'Duck Kanton Style', I
did not realize what was happening, as the waitress said something to
Jacqueline and she made a 'horror' expression and said: "No, not
for me, I order other thing!". I was surprised, because I know
Jacqueline normally behaving diplomatically to something she does not
really like.
After the waitress went, Jacqueline
asked us: "Do you like eating water-spider?". We raised
eyebrows: "What??!!!"
After some explanations, then we got
the answer: the waitress tried to explain Jacqueline about
'Kangkung'. She explained it as 'water-spinach', though her accent
made Jacqueline understood 'Wasser-Spinne' (=Water Spider) instead of
'Wasser-Spinat' (=Water Spinach)..We laughed our belly out about it.
Well, Jacqueline might have some thought after I showed her a picture
of chicken claws on the window of the Sze Chuan restaurant before!
It was a great day. Great event, great
food. With the note from Jacqueline, in the middle of the 'battle'
with our food. She looked at us and said : "Two happy indonesian
girls!" and made a big smile, laughing at our food orgy...
2009-12-02 | | |
Berita-berita di luar negeri tentang
Indonesia biasanya jika tidak tentang runtutan musibah bencana alam
pasti tentang ekstremisme Muslim, kerusuhan sosial, tragedi TKW, atau
jawara peringkat hal negatif, seperti indeks korupsi atau kualitas
hidup. Teori jurnalistik tentang bad news is good news ini sungguh
menghasilkan sebuah pencitraan kolektif yang merisaukan.
Karena itu, hadirnya poster Indomie di
kota-kota dunia, terutama di Timur Tengah, tertulisnya menu
”Indonesian nasi goreng” di banyak restoran hotel berbintang di
mancanegara atau perbincangan tentang surgawinya Pulau Bali cukup
melegakan hati.
Banyak sekali sebenarnya hal baik atau
prestasi-prestasi mendunia karya anak bangsa yang membanggakan,
seperti halnya keberhasilan juara-juara olimpiade fisika atau
penghargaan UNESCO untuk inovasi batik Fraktal asal Bandung. Namun,
entah mengapa gaungnya tidak banyak terekam dengan optimal. Gaungnya
belum mampu melawan balik pencitraan negatif yang lebih sering
muncul.
Permasalahan di atas persis seperti
yang diteorikan tokoh marketing dunia, Peter Drucker, bahwa dalam
filosofi bisnis hanya terkandung dua nilai utama: inovasi dan
pemasaran. Kita kalah bersaing karena sering kali produk kita kurang
inovatif untuk kompetisi global atau kalaupun produk-produknya
inovatif, sering kali dikalahkan oleh kurang canggihnya strategi
pemasaran yang jitu dan tepat sasaran. Indonesia sering kali kalah
langkah dengan cara kreatif negara-negara tetangga kita Malaysia,
Thailand, ataupun Singapura dalam hal memasarkan citra positif
negaranya melalui iklan-iklan pariwisata yang hadir membombardir
beragam media di mancanegara.
Kreativitas
Kata kunci isu di atas adalah
kreativitas. Kreativitas yang mampu menghasilkan hal-hal baru yang
didapat dari hasil berpikir di luar kelaziman. Derajat tertinggi
kreativitas adalah aspek inovatif karena tidak semua output
kreativitas selalu bersifat inovatif. Inovasi mengedepankan
orisinalitas yang tidak pernah ada sebelumnya. Kita tahu faktor
orisinalitaslah yang membuat produk kursi Accupunto karya Leo
Theosabarata ataupun Magno radio kayu karya Singgih Kartono
mendapatkan penghargaan kelas dunia. Di situs Google banyak sekali
publikasi untuk kedua karya anak bangsa ini.
Faktor kreativitas kelas dunia adalah
resep utama yang membuat kekayaan budaya dan alam kita bisa dikenal
di mancanegara. Kreativitas dalam mengemas pertunjukan teater I La
Galigo, misalnya, ternyata bisa menghadirkan legenda kitab Sureq
Galigo ini secara mengagumkan di seluruh dunia, termasuk di pentas
Broadway, New York. Sentuhan kreativitas kelas dunia karya sutradara
Robert Wilson ini mampu menyihir para penontonnya untuk larut
terkesima dalam cerita epik suku Bugis abad ke-14 ini. Mampukah kita
mengemas puluhan legenda budaya kita untuk dihadirkan ke pentas dunia
sefenomenal sentuhan Wilson?
Kreativitas dalam mengemas dan
memasarkan pulalah yang berhasil mengangkat produk alam Indonesia,
yaitu kopi Toraja, menjadi salah satu kopi termahal oleh jaringan
Starbucks. Edisi terbatas kopi-kopi termahal ini diberi label Black
Apron yang oleh Dub Hay, kurator utama Starbucks, pilihan kopi Toraja
ini diberi nama komersial ”Kopi Kampung”. Satu kilonya bisa
dijual sekitar Rp 500.000.
http://www.maindexchange.com/index.php?option=com_content&task=view&id=89&Itemid=38
2009-12-02 | |
Total 120 Articles
|
|
 |
| ARTICLE |
 | Arti Hadiah Pemberian Pria [2010-10-05]
Seringkali wanita
bertanya-tanya setelah diberi hadiah oleh pasangannya. Padahal, hadiah yang
diberikan oleh pria sebenarnya berdasarkan pertimbangan yang sangat simpel.
Oleh karena itu mereka kerap menjadi bingung, apa yang salah dengan hadiah yang
diberikannya?
|  | Arti Sebuah Hadiah [2010-09-24]
Hadiah dapat melakukan
apa yang tidak dapat dilakukan ucapan dan permintaan ma’af. Ia mampu
menghilangkan kabut hati, memadam kan api permusuhan, menenangkan kemarahan dan
melenyapkan rasa iri hati dan kedengkian. Ia dapat mendatangkan kecintaan dan
persahabatan setelah sekian lama tercerai-berai.
|  | Tenun Indonesia Go International [2010-04-11]
GUCCI dan Christian Dior berniat untuk
menggunakan tenun Indonesia dalam varian produknya. Sektor industri
tenun di Tanah Air akan kembali terangkat setelah beberapa tahun ini
mengalami penurunan produksi. Bak gayung bersambut, pemerintah pun
langsung menindaklanjuti kerja sama dengan dua label kenamaan dunia
ini. Syaratnya, perlu ada label khusus untuk setiap produk yang
menggunakan tenun Indonesia sehingga nama dan kualitas produk
domestik juga ikut dikenal secara global.
|  | Alami yang Disuka [2010-03-11]
Batik Madura mulai dilihat sebagai
potensi Tanjung Bumi, dan Madura secara umum. Beberapa tahun silam,
di Tanjung Bumi juga pernah didirikan Unit Pelayanan Teknik Batik
(UPT Batik) oleh dinas Perindustrian Kabupaten Bangkalan. Sebab
banyaknya pengrajin batik di Tanjung Bumi. Dalam perjalanannya UPT
Batik itu berfungsi sebagai wadah dari hasil karya para perajin.
Sekaligus sebagai mediator antara perajin dan pembeli. Pada saat itu
semua batik hasil para perajin di kecamatan tersebut di kumpulkan di
UPT tadi.
|  | Merajut Waktu Menjalin Makna [2010-03-11]
Kain tenun dan hasil tekstil lainnya
adalah suatu warisan kekayaan peninggalan para leluhur bangsa
Indonesia yang tak ternilai harganya. Hampir seluruh kelompok etnis
di wilayah Nusantara hingga saat ini masih melakukan pembuatan tenun,
baik secara turun temurun maupun dalam wilayah industri kecil dan
menengah. Hasil-hasil tenun dari Nusantara juga menjadi salah satu
bentuk artefak budaya yang paling menyebar dihampir seluruh museum
dibelahan dunia. Kekaguman pada corak atau motif dan pola-pola yang
rumit namun indah serta halus dan mempunyai kandungan makna budaya
menjadikan para pencinta kain tenun dan peneliti diseluruh dunia
mengakui bahwa estetika kain tenun di Indonesia memang begitu beragam
dan bernilai budaya tinggi.
| | [View All]
|
|
| LINKS |
|
|
| RANDOM GALLERY |

STATIONERY TS-01
|
|