We would be happy to provide custom-made design to meet your corporate gift needs. Please contact our corporate gift advisor.



Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya tidak jelas, meragukan dan hanya berbasis pada legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.


Sejarah Hari Valentine 3

Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sastrawan Inggris Pertengahan bernama Geoffrey Chaucer. Ia menulis di cerita Parlement of Foules

http://www.asal-usul.com/2009/02/hari-valentine-dalam-tinjauan-sejara.html


 

2010-02-03


"Kami khawatir jika tekstil China tersebut masuk dengan bebas akan menggusur kami. Soalnya, ketika batik China masuk tahun lalu saja cukup merepotkan dan terjadi penurunan omzet penjualan," kata Aminah, 52, seorang pengrajin batik Pekalongan di Pesindon, Kota Pekalongan.

Hal senada juga diungkan oleh Endang, 45, perajin di Bendan, Pekalongan, bahwa keresahan perajin karena tekstil China, terutama dengan bahan sutra bermotif batik, mirip dengan batik Pekalongan, dijual lebih murah, dan kualitas bahan yang bagus. Industri tekstil printing saja kewalahan menghadapi produk tekstil China tersebut. "Apalagi, kami yang hanya bermodal kecil dan hanya mengandalkan keahlian turun temurun," tambahnya.

Berdasarkan pemantauan pasar tekstil China dengan motif batik telah masuk ke beberapa kota di Jawa Tengah, bahkan di Pekalongan. Contohnya, harga untuk kain dengan ukuran sarimbit mampu dijual Rp40.000-75.000 per potong. Untuk batik tradisional dengan sistem produksi cap rata-rata dijual di atas Rp100.000. Harga batik kain jarik untuk batik tradisional rata-rata di atas Rp40.000 per potong. Namun, batik China mampu dijual Rp20.000 per potong.

Wali Kota Pekalongan Basyir Achmad mengatakan telah banyak mendapatkan keluhan dan keresahan para pembatik tradisional. Karenanya, Pemerintah Kota Pekalongan sedang melakukan upaya membatasi beredarnya tekstil batik asal China tersebut di pasaran.

http://www.mediaindonesia.com/read/2010/01/01/116543/124/101/Batik-China-Bikin-Resah-Pembatik-Pekalongan


2010-02-02


Berbekal peta sederhana dan petunjuk dari resepsionis hotel, kami mulai menyusuri indahnya kota Solo dengan bangunan-bangunan tua berarsitektur gaya kolonial yang banyak bertebaran di kota batik itu. Kota yang tak terlalu besar dengan kondisi lalu lintas lancar membuat perjalanan dengan Captiva begitu mengasyikkan.

Bangunan-bangunan tua yang masih kukuh berdiri membawa angan mundur jauh ke belakang membayangkan seperti apa kondisi kota ini saat bangunan-bangunan itu baru berdiri. Kendaraan tradisional becak dengan desainnya yang khas semakin mempercantik dan memperkuat ciri kota dengan penduduknya yang sangat ramah bersahaja.

Tak terasa hari beranjak siang ditandai dengan sinar matahari yang mulai terasa menyengat di kulit. Beruntung Captiva yang kami tunggangi memiliki sistem pendingin udara yang sangat mujarab mengusir udara panas di dalam kabin. Posisi duduk dan interiornya yang nyaman membuat kami tak merasa lelah seharian berada di dalam kabinnya

Puas berkeliling kota Solo, kami pun memutuskan untuk mengunjungi sebuah pusat pengrajin batik di Kampung Wisata Batik daerah Kauman yang berlokasi di sebelah selatan kota Solo yang terpisah satu blok dari kompleks Keraton Surakarta.

Kampung pengrajin batik tradisional ini bersebelahan dengan Masjid Agung tak jauh dari Pasar Klewer tepatnya di kelurahan Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta. Kelurahan ini berdiri di atas areal tanah seluas 20.10 hektar. Dan untuk menjangkaunya harus melewati jalan-jalan sempit yang diapit bangunan-bangunan jawa kuno bergaya Eropa.

Kampung Kauman berdiri setelah Pemerintahan Keraton Kartosuro pindah ke Desa Solo yang kemudian berubah nama menjadi Kasunanan. Sesuai namanya Kauman merupakan tempat para kaum ulama tinggal. Karena adanya kaum yang menjadi penduduk mayoritas wilayah ini maka daerah ini disebut Kauman.

Captiva pun berhenti di pelataran parkir sebuah gerai Batik Gunawan Setiawan. Bau khas malam sebagai komponen penting pembuatan batik segera menyergap indera penciuman. Kami pun memasuki gerai yang dipenuhi beragam batik dalam bentuk kain, kemeja, celana, daster dan sebagainya.

Jenisnya ada tiga macam, batik cap, batik tulis dan gabungan keduanya, sementara bahannya menggunakan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis primisima dan prima serta rayon.

Dengan ramah seorang perempuan berparas ayu nan njawani mempersilakan kami memilih produk di gerai itu. Sebentar saja kami sudah larut dalam obrolan santai seputar batik. Media Indonesia pun tak menyia-nyiakan waktu saat ia menawarkan diri untuk mengantar kami melihat langsung proses pembuatan batik di bagian belakang gerai.

Sejatinya, motif batik yang dihasilkan para pengrajin berasal dari motif khas keraton. Batik yang diproduksi masyarakat Kauman pada awalnya merupakan batik-batik pesanan para abdi dalem kasunanan. Seiring berjalannya waktu, motif batik pun berkembang. Batik yang dahulunya hanya didominasi warna cokelat, merah, kuning dan hitam, kini mulai hadir beraneka warna.

Pada zaman dahulu batik menggunakan bahan pewarna dari alam, seperti kulit kayu, buah dan daun. Oleh karena itu warnanya pun terbatas. Kini jenis pewarna kimia digunakan untuk menghasilkan warna-warna cerah dan warna yang sulit didapat dari bahan alami.

Meski hasilnya nampak lebih cerah dan menyegarkan, tetap saja batik dengan pewarna alami lebih mahal dan prestise selain berkesan lebih otentik serta ramah lingkungan. Seperti tren ramah lingkungan yang tengah digalakkan di kalangan industri otomotif termasuk padaproduk-produk Chevrolet.

http://www.mediaindonesia.com/mediaoto/index.php/read/2009/09/17/527/4/Menyusuri-Kota-Batik-Dengan-Captiva


2010-02-02


Singgih Susilo Kartono adalah nama di balik seluruh kerja besar ini. Ia adalah desainer produk yang memusatkan segala aktivitas bisnisnya dari desa Kandangan, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Terbuai dalam alam pedesaan masa kecil, tinggal di atas tanah orang tua yang sejak dulu diimpikan, ia mengajak masyarakat setempat untuk bekerja di workshop sederhana yang berpemandangan alam pedesaan, pesawahan, pepohonan bambu, bermusik desau angin, dan suara anak-anak bermain sepakbola kertas.

Tahun lalu, ia menduduki posisi 6 dari 276 nominator People Design Award, Cooper-Hewitt National Design Museum New York, Amerika Serikat. Prestasi ini berlanjut di Jepang ketika membawa penghargaan Good Design Award – Japan 2008, sementara ia baru saja meraih Grand Award “Design for Asia Award” 2008 by Hong Kong Design Center. Tahun 2009, ia “menaklukkan” Eropa dengan membawa pulang penghargaan Design Plus Award – Ambiente Frankfurt Germany 2009, serta Brit Insurance Design of the Year 2009, Design Museum, London. Prestasi luar biasa ini ternyata tetap disikapi rendah hati oleh Singgih – seperti yang dirasakan dewi ketika mengunjungi workshopnya beberapa waktu lalu.

“Ini kan seperti ramalan Alvin Toffler. Kita bisa bekerja dari pelosok pedesaan dan memiliki akses koneksi internasional,”kata Singgih yang juga harus membagi waktunya untuk mengajar di Toyota Shirikawa- Go-Eco Institute Jepang, selain menjadi dosen tamu di Falmouth University dan Central Saint Martin College, London, Inggris. Meski demikian, ia mengaku paling kerasan tinggal di workshopnya, dan meminimalisir kepergian ke luar kota. “Andai saja semua bisa dilakukan dengan naik kereta api.. Saya takut naik pesawat,” ujarnya malu-malu, membuka sebagian rahasianya.

Di desa ini, Singgih dilahirkan empat puluh satu tahun lalu. Ia adalah anak bungsu dari 5 bersaudara. Orang tuanya berprofesi sebagai guru yang menambah penghasilan dengan mendirikan tempat penggilingan padi dan pembibitan cengkeh. “Yang sekarang jadi rumah saya, dulu merupakan tempat penggilingan padi yang disewa orang tua saya. Waktu itu saya mimpi betul seandainya tanah ini milik kita,” katanya berbinar-binar sambil menunjuk rumah yang sedang dibangun di depan workshop. “Lucunya, di tempat yang sama saya membuat pembibitan tanaman kayu, mirip yang dilakukan orang tua saya,” ia tersenyum, mengenang masa kecilnya yang dididik dengan sangat keras dan disiplin oleh ayahnya. “Waktu kecil saya sangat peragu, penakut, pemalu, dan sangat kaku. Ibu saya bilang, kalau saya punya kemauan harus jalan, egonya besar,” ia tertawa. Suatu hari nanti, ia akan menyadari bahwa sebagian kesuksesan yang diraihnya kini tak lain dari tingginya ego yang dimiliki.

Tapi yang paling berkesan darinya adalah soal sensitivitas visual. Ia punya pengalaman dengan pompa air. “Saya diminta untuk memasang pompa air. Karena menurut saya bentuknya tidak indah, saya pasang sesuai keinginan saya. Eh, ternyata pompa air tak bisa dipakai. Saya sampai menangis karena dipaksa memasang pompa air yang menurut saya jelek bentuknya,” ia menertawakan dirinya. Termasuk ketika ia mengganti badge OSIS dengan badge lain yang menurutnya bagus.” Ketika dipanggil guru BP, saya bilang, badge itu jelek dan tidak sesuai dengan jiwa anak muda. Ha ha ha..”

Ia memang sangat memperhatikan hal-hal di sekelilingnya. Terutama pada orang yang dikasihinya. “Sejak SMP, saya sering membuat pernak-pernik untuk diberikan kepada orang yang saya sukai. Saya senang melihat ekspresi orang yang menerimanya,” katanya. Bisa jadi keinginan ini dipacu untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Ia lalu bicara, “Saya dulu sering ada rasa iri pada kakak-kakak. Memang hal ini yang membuat saya jadi agak badung. Tapi sikap (cemburu) itu justru mendorong saya untuk bisa lebih baik, seperti ingin dapat sekolah bagus,” kata Singgih. Ia berhasil masuk jurusan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) kendati nilai mata pelajaran menggambarnya 6! “Sholat tahajud selama sebulan penuh . Karena melihat keseriusan saya, Ibu sering menemani,” ia membuka rahasianya.

Persoalan kembali hadir. Selama setahun penuh, karena merasa tak bisa menggambar, ia bekerja keras untuk bisa menyeimbangkan kemampuan dengan teman sekelasnya. “Saat itu saya hampir frustasi. Duh Tuhan, jangan-jangan Kamu hanya mengabulkan doaku, tapi sesungguhnya aku tak mampu menjalaninya,” Ia kembali tersenyum karena mampu menyelesaikan masa kuliahnya dengan baik dan langsung mendapat tawaran bekerja di PT Prasidha Adhikriya. Di sini ia benar-benar belajar pada sang pemilik, Surya Pernawa, mengenai bagaimana mengembangkan kerajinan yang ada di Indonesia. Tapi, ia hanya sanggup bertahan hingga dua tahun lamanya.

“Saya ternyata tak bisa hidup di kota karena ramai, bising, rumit, dan yang pasti saya cuma jadi sekrup. Tak pernah sekalipun saya berpikir untuk jadi karyawan. Di perusahaan Pak Surya, hubungan kami seperti teman,” ia menjelaskan alasan mengapa akhirnya memutuskan untuk pulang ke desanya di tahun 1995. Bersama Haryanto Aly, ia mendirikan perusahaan serupa bernama PT Aruna Arutala. “Saya tahu, orang tua saya kecewa karena saya belum punya apa-apa, sudah pulang,” kata Singgih yang menjalankan proyek pertamanya dari perusahaan sebelumnya. Sedihnya lagi, enam bulan kemudian perusahaan yang sudah merekrut 40 karyawan itu terancam bangkrut karena salah managemen. Ia harus bertindak tegas.

“Eh, tiba-tiba saya bisa memiliki gaya kepemimpinan! Mungkin karena saya dipaksa menghadapi situasi,” saat itu, ia mengurangi karyawan hingga berjumlah delapan dan mengatakan pada karyawan bahwa ia hanya mampu memberikan uang sebesar Rp.2500/hari, sambil disertai janji bila perusahaan berkembang, mereka juga akan dinaikkan. Ia memang akhirnya menepati kata-katanya. Di tahun-tahun berikutnya, perusahaan berjalan lancar dan menuai kesuksesan.

Tapi ia masih merasa hidupnya tak tenang. Ada sesuatu yang mengganjal perasaannya. Hal itu adalah soal kebebasan dalam berkarya. “Ternyata kami memiliki proses kreatif yang berbeda. Teman saya sangat sistematis dan terstruktur, sementara saya memutuskan desain berdasarkan feeling dan pendekatan emosional. Terus terang tak bisa berpikir berdasarkan rentang, atau mendiskripsikan dari a ke z prosesnya bagaimana. Tapi saya tahu, tujuan saya radio kayu, ”ungkapnya jujur. Setelah tujuh tahun, ia pun memutuskan mundur, dan mendirikan perusahaan baru bernama PT Piranti Works yang bergerak pada produk kayu berdimensi kecil.

Akibat keputusan ini, ia kembali dari nol. “Dari pada pusing memikirkan jumlah asset di perusahaan lama, mending saya fokus saja,” katanya. Berbekal ruang tamu miliknya sebagai workshop, ia memulai usaha dengan memproduksi kaca pembesar dari kayu. “Istilah Magno berasal dari situ (magnifying glass). Saya artikan, saya memang membuat barang yang kecil, detail, saya pilih huruf g yang unik, karena menurut saya cantik,” ceritanya. “Tahun 2004, saya naik vespa ke luar kota untuk mencari kayu bekas karena tak mampu membeli kayu banyak. Saya memotong-motong sendiri di depan rumah, ” ia mengisahkan perjuangannya.

Padahal, ia hanya berpikir sederhana. Bila memang sudah mentok di sini, artinya ia harus berbelok. Perjalanan desain seperti sebuah petualangan, banyak trial and error. Kadang ia tak berpikir panjang, hanya mengikuti kata hati, namun tak banyak orang bisa memahami. Contohnya ketika gagal mendapatkan mesin radio dari supplier dan industri karena terbentur kuantitas minimum, ia menuju pasar dan membeli radio hanya untuk diambil mesinnya. “Habis mau gimana lagi? Ya harus dengan cara kanibal,” ia tertawa.

Ia juga pernah melakukan fund rising untuk dirinya ketika tak memiliki biaya untuk pameran di Jepang tahun 2005. “Saya jual produk melalui email dengan foto produk prototype, lalu saya tuliskan “Tolong bayar dulu, nanti setelah pulang, saya siapkan barangnya”, kata Singgih yang sejak awal memilih berorientasi ekspor karena dianggapnya menjadi pasar yang paling kuat dan mendorong produsen untuk punya disiplin kerja yang baik. (Itu sebabnya ia sering mengalami kendala berhubungan dengan sumber daya manusia di daerah yang masih kurang menghargai porfesionalitas bekerja.)

Perjalanan ini ternyata tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Order pertamanya didapat dari pria Jepang – yang seperti dikatakan Singgih, wajahnya kurang meyakinkan karena kumal – berupa boneka kayu yang ternyata memiliki nilai sama persis dengan asset yang ditinggalkan di perusahaan lama. “Ini seperti hadiah dari Tuhan,”katanya riang. Dari keuntungan yang diperoleh, ia membeli tanah luas di desanya, membesarkan perusahaan, dan membangun kembali mimpi masa lalunya. “Waktu kecil, saya baca buku mengenai Thomas Alva Edison, saya pingin jadi inventor dan punya hak cipta,” lanjutnya.


“Saya ini orangnya nekad saja. Sebenarnya yang paling sengsara istri saya. Karena saya adalah orang yang di depan, orang yang punya gagasan. Kalau gagal ya wajar, tapi yang merasakan kesusahan kan orang lain. Kalau diprotes, saya nggak bisa terima, karena saya sangat keras kepala,” ia menengok pada sang istri, Tri Wahyuni, yang menemani sepanjang wawancara. Wajahnya terlihat bahagia. Bersama sang istri – mungkin satu-satunya orang yang bisa memahami gagasan-gagasannya – ia melanjutkan kayuh bisnisnya.

“Terus terang, saya tak bisa mengurus segala sesuatu yang monoton, terus menerus, dan detail. Proses produksi itu kan rumit, untuk satu radio memerlukan lebih dari 20 proses, banyak komponen, dan masing-masing dibuat dengan tangan. Saya tak bisa, kelebihan istri saya, dia bisa kerja ini dengan cara “awangan” ( membayangkan),”kata Singgih yang berhasil merumuskan kembali pemahaman tentang industri kerajinan dengan pendekatan modern berbasis kerja tangan. Lagi-lagi, ia matang karena ditempa dengan berbagai pengalaman.

http://rustikaherlambang.wordpress.com/2009/10/04/singgih-susilo-kartono-versi-panjang/


2010-02-01


Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Tradisi falsafah Jawa yang mengutamakan pengolahan jati diri melalui praktek-praktek meditasi dan mistik dalam mencapai kemuliaan adalah satu sumber utama penciptaan corak-corak batik tersebut selain pengabdian sepenuhnya kepada kekuasaan raja sebagai pengejawantahan Yang Maha Kuasa di dunia. Sikap ini menjadi akar nilai-nilai simbolik yang terdapat di balik corak-corak batik menurut Djajasoebrata (dalam Anas, Biranul, 1995: 64). Pola, motif dan warna dalam batik, dulu mempunyai arti simbolik. Ini disebabkan batik dulu merupakan pakaian upacara ( kain panjang, sarung, selendang, dodot, kemben, ikat kepala ), oleh karena itu harus dapat mencerminkan suasana upacara dan dapat menambah daya magis. Karena itu diciptakanlah berbagai pola dan motif batik yang mempunyai simbolisme yang bisa mendukung atau menambah suasana religius dan magis dari upacara itu. “ Jadi batik tidak hanya untuk memperindah tubuh dan menyenangkan pandangan mata saja, tapi merupakan bagian dari upacara itu sendiri bersama dengan alat-alat upacara yang lain” ( Iwan Tirta, 1985: 3). “Motif-motif batik tidak sekedar gambar atau ilustrasi saja namun motif-motif batik tersebut dapat dikatakan ingin menyampaikan pesan, karena motif-motif tersebut tidak terlepas dari pandangan hidup pembuatnya, dan lagi pemberian nama terhadap motif-motif tersebut berkaitan dengan suatu harapan”.

http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://dunianyamaya.files.wordpress.com/2008/04/parang-barong.jpg&imgrefurl=http://dunianyamaya.wordpress.com/2008/04/09/makna-batik-dalam-pernikahan-adat-yogyakarta/&usg=__JkicFRfkGKEWKfmmzD_ZsxAsddA=&h=1000&w=1784&sz=494&hl=id&start=1&tbnid=S46sodgcs4GNsM:&tbnh=84&tbnw=150&prev=/images%3Fq%3Dbatik%2Bbanyumas%2Bparang%26gbv%3D2%26hl%3Did%26sa%3DG


2010-01-28

Total 118 Articles
ARTICLE
Tenun Indonesia Go International [2010-04-11]

GUCCI dan Christian Dior berniat untuk menggunakan tenun Indonesia dalam varian produknya. Sektor industri tenun di Tanah Air akan kembali terangkat setelah beberapa tahun ini mengalami penurunan produksi. Bak gayung bersambut, pemerintah pun langsung menindaklanjuti kerja sama dengan dua label kenamaan dunia ini. Syaratnya, perlu ada label khusus untuk setiap produk yang menggunakan tenun Indonesia sehingga nama dan kualitas produk domestik juga ikut dikenal secara global.


Alami yang Disuka [2010-03-11]

Batik Madura mulai dilihat sebagai potensi Tanjung Bumi, dan Madura secara umum. Beberapa tahun silam, di Tanjung Bumi juga pernah didirikan Unit Pelayanan Teknik Batik (UPT Batik) oleh dinas Perindustrian Kabupaten Bangkalan. Sebab banyaknya pengrajin batik di Tanjung Bumi. Dalam perjalanannya UPT Batik itu berfungsi sebagai wadah dari hasil karya para perajin. Sekaligus sebagai mediator antara perajin dan pembeli. Pada saat itu semua batik hasil para perajin di kecamatan tersebut di kumpulkan di UPT tadi.

Merajut Waktu Menjalin Makna [2010-03-11]

Kain tenun dan hasil tekstil lainnya adalah suatu warisan kekayaan peninggalan para leluhur bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Hampir seluruh kelompok etnis di wilayah Nusantara hingga saat ini masih melakukan pembuatan tenun, baik secara turun temurun maupun dalam wilayah industri kecil dan menengah. Hasil-hasil tenun dari Nusantara juga menjadi salah satu bentuk artefak budaya yang paling menyebar dihampir seluruh museum dibelahan dunia. Kekaguman pada corak atau motif dan pola-pola yang rumit namun indah serta halus dan mempunyai kandungan makna budaya menjadikan para pencinta kain tenun dan peneliti diseluruh dunia mengakui bahwa estetika kain tenun di Indonesia memang begitu beragam dan bernilai budaya tinggi.

Negeri Sejuta Motif Batik [2010-02-23]

Ada sesuatu yang sangat fenomenal dalam sejarah Pekalongan empat tahun terakhir ini, yakni berdirinya Museum Batik. Keberadaannya mampu menjadikan titik tolak kebangkitan Kota Pekalongan. Karena keberadaan Museum tidak hanya sekedar untuk menyimpan berbagai benda-benda bersejarah saja. Namun dari museum mampu dirunut sebuah perjalanan kehidupan serta budaya masa lalu. Dari sini kita bisa melihat sekaligus belajar mengerti tentang tapak sejarah batik tidak hanya skala lokal setetapi batik secara nasional.


Batik Mega Mendung [2010-02-23]

ampir di seluruh wilayah Jawa memiliki kekayaan budaya batik yang khas. tentu saja ada daerah-daerah yang lebih menonjol seperti Solo, Yogya, dan Pekalongan. tetapi kekayaan seni batik daerah Cirebon juga tidak kalah dibanding kota-kota lainnya.

[View All]
LINKS
Leoniko
Nusansifor
RANDOM GALLERY


SMALL FUNCTIONAL COMPASS CS-01




HOME | ABOUT US | SERVICES | GALLERY | ARTICLE | HOW TO BUY | COORPORATE GIFT ADVISOR | CONTACT US

© Copyright 2007 IDEGIFT.COM Designed by Leoniko