| | |
Batik memang sedang trend. Dimulai dari
para selebritis yang mengkampanyekan masyarakat untuk cinta batik.
Kemudian kalangan-kalangan socialite mengenakannya. Yang akhirnya
menyeruak semua kalangan. Beredar luas, boom!
Batik (atau kata Batik) berasal dari
bahasa Jawa amba yang berarti menulis dan titik. Kata batik merujuk
pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan malam (wax) yang
diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna
(dye), atau dalam Bahasa Inggrisnya wax-resist dyeing.
Bila dilihat dari dari metode
pembuatannya, batik terbagi menjadi lima macam: batik tulis, batik
cap, batik sablon, batik painting dan batik printing. Tapi hanya tiga
jenis yang dikenal oleh kalangan umum yaitu batik tulis, batik cap
dan batik print yang bahan kainnya terkenal panas alias tidak nyaman
bila dikenakan.
aktualBatik tulis adalah batik yang
motifnya dibentuk dengan tangan, yaitu digambar dengan pensil dan
canting untuk penutup atau pelindung terhadap zat warna.
Batik cap adalah batik yang pembuatan
motifnya menggunakan stempel. Cap ini biasanya terbuat dari tembaga
yang telah digambar pola dan dibubuhi malam (cairan lilin panas)
Batik printing adalah batik yang
penggambarannya menggunakan mesin. Jenis batik ini dapat diproduksi
dalam jumlah besar karena menggunakan mesin modern. Kemunculan batik
printing dipertanyakan oleh beberapa seniman dan pengrajin batik
karena dianggap merusak tatanan dalam seni batik, sehingga mereka
lebih suka menyebutnya kain bermotif batik.
Mengenakan batik, bagi saya tidak hanya
asal memakainya begitu saja. Selain cara pembuatannya, keindahan
batik juga dipengaruhi dari asal daerah pembuatannya. Semuanya
cantik-cantik meski ragam corak dan warnanya berbeda-beda ditiap
daerah.
Yuuk kita belajar untuk mengenal
warisan nenek moyang kita yang satu ini. Selain Jawa ternyata
Sumatera pun memiliki batik sendiri.
http://bz.blogfam.com/2008/10/si_jarik_cantik_bagian_1.html
2010-01-19 | | |
Dalam buku Batik Tatar Sunda yang
ditulis Saftiyaningsih Ken Atik, Herman Jusuf, dan Didit Pradito,
dijelaskan bahwa sebagian pengungsi itu adalah pembatik dari
Banyumas. Mereka banyak memberikan pengaruh, terutama pada warna
latar batik Ciamis, Indramayu, dan Tasikmalaya.
Warna latar itu disebut kuning gading,
kuning dukuh, dan kuning gumading. Batik Tatar Sunda tidak hanya
menyerap berbagai pengaruh dari daerah tetangga, tetapi juga negara
lain.
Sejak kedatangan pengungsi Perang
Diponegoro, batik diterima di Jabar mulai dari rakyat jelata hingga
kalangan kerajaan. Batik paseban kuningan, misalnya, memiliki motif
yang memanfaatkan bentuk ragam ornamen Istana Paseban di Cigugur,
Kabupaten Kuningan. Istana Paseban berdiri sejak 1840. Bangunan itu
konon pernah menjadi tempat konsentrasi tentara Mataram.
Beragam motif
Menurut Ketua Harian Yayasan Batik
Jabar Komarudin Kudiya, pembatik yang datang dari Jateng kemudian
dipengaruhi alam dan budaya Jabar. "Pengaruh itu misalnya dari
bahan baku dari alam untuk pewarnaan dan budaya lokal sebagai motif
batik," tuturnya.
Motif batik Tasikmalaya, misalnya,
tidak mengenal kelas dan status sosial atau kedudukan seseorang. Hal
itu sesuai dengan keadaan sosial masyarakat Tasikmalaya yang tidak
membedakan status sosial. Batik Ciamis cenderung memiliki gaya batik
pesisir karena ada kontak dagang atau hubungan antardaerah pembatikan
di pesisir serta diilhami keadaan alam sekitar. Di Garut terdapat
motif dengan tema kehidupan masyarakat sehari-hari, antara lain
kendi, capung, kupu-kupu, anyaman bambu, dan kurungan ayam.
"Motif batik juga bisa diilhami
dari hikayat daerah. Saya sudah membuat sekitar 90 motif batik
tentang hikayat. Sebagian besar adalah hikayat Jabar," katanya.
Hikayat itu antara lain tentang
Kesultanan Cirebon, Situ Cileunca, dan topeng Cirebon. Kini, seiring
dengan perkembangan zaman, batik tak lantas menjadi produk usang.
Bahkan penggunaannya oleh masyarakat semakin luas.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah
Jabar Netty Heryawan mengatakan, batik kini tidak hanya digunakan
dalam acara resmi, tetapi juga santai. Bahkan semakin banyak anak
muda bangga mengenakan batik.
"Jabar memiliki potensi besar
dalam perbatikan secara produksi ataupun kekayaan motif,"
katanya. (dwi bayu radius)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/08/11/17025541/.Berawal.dari.Perang.Diponegoro
2010-01-19 | | |
Sepintas terlihat seperti bentuk kotak
biasa, namun panel depan dan belakangnya dibentuk dengan bentuk
lengkung sehingga terkesan bentuk organik. Namun, bagian dalamnya
berfungsi sebagaimana radio normal.
Radio ini dapat menerima sinyal AM dan
FM dan telah dioptimalkan untuk dapat digunakan di Jepang. Dengan
channel FM, dapat menerima saluran TV analog dari channel 1 sampai 3.
Untuk batang antena saluran FM, dapat
dipanjangkan dalam 4 bagian. Dengan menggunakan baterai AAA sebanyak
4 buah, radio ini sudah bisa dinikmati. Penggunaan baterai electric
charger pun bisa digunakan.
Ada 3 tombol (dial) yang dapat
dioperasikan. Tombol untuk tuning terdapat dibagian atas panel depan.
Di bagian bawahnya terdapat tombol on-off dan juga tombol pengeras
suara. Dengan memikirkan tentang keseimbangan bagian depan radio ini,
kedua buah tombol ini dibuat dengan ukuran yang berbeda.
Di bagian belakang terdapat tombol
pengatur saluran AM dan FM. Kemudian, dibawahnya terdapat tempat
baterai. Untuk membuka dan menutup tempat baterai ini, digunakan
lingkaran yang terbuat dari karet dan batang kayu ebony yang dapat
diputar dengan tangan. Keterangan tentang produk ini tertulis dibalik
cover baterai. Bagian-bagian kecilpun dipikirkan dengan sangat baik.
Kemasan produk ini terdiri dari, 2 buah
panel kayu balsa didirikan pada kedua sisinya, kemudian dibungkus
dengan kertas kardus dan diikat dengan karet. Ketika produk ini
dikirim, tidak ditemukan adanya kerusakan didalamnya, walaupun
menggunakan material yang “seadanya” dan tetap cantik dilihat.
Atas dasar itulah kemasan ini dirancang. Kerena kemasan ini dirancang
dengan sangat hati-hati, maka amat sayang apabila kardus dari produk
ini dibuang begitu saja.
Produk “Radio Kayu” ini berbeda
dengan produk lain yang terbuat dari plastik. Diperlukan perhatian
khusus apabila ingin menggunakannya secara terus menerus. Untuk
menghindari permukaan radio dari debu, maka permukaan kayu radio ini
dilapis dengan minyak. Biasanya hanya diperlukan kain lembut untuk
membersihkannya dan biarkan mengering. Harus dilakukan secara
perlahan. Sesekali, permukaan radio ini perlu diolesi dengan teak oil
atau sejenisnya dan dilap dengan kain yang lembut. Jika dirawat
dengan baik dan hati-hati, “Radio Kayu” ini lama kelamaan bisa
lebih bercahaya.
Saat ini radio kayu atau wooden radio
boleh dibilang merupakan salah satu hot item. Rupanya, ketika banyak
produk dibuat dari plastik, materi dari kayu memberikan eksotisme
tersendiri. Isu lingkungan juga membuat produk semacam ini naik daun.
Alhasil, dalam sepuluh tahun terakhir, produk semacam ini banyak
diburu. Produsen asal Cina termasuk yang cepat bergerak.
Toh, radio Singgih tetap punya daya
tarik. Berbeda dengan produk lainnya yang masih memuat unsur di luar
kayu seperti logam dan plastik, produk buatan Singgih memakai kayu
sebagai materi utama. Peminatnya bejibun. Dari Kandangan, Temanggung,
Jawa Tengah, tempat workshop-nya, Magno terbang ke Jepang, Inggris,
Prancis, hingga Finlandia. ”Jepang merupakan pasar utama,” kata
Singgih. ”Tidak terlalu besar, tapi terus berlanjut.” Dalam
sebulan, Singgih mengirimkan 50 unit radio kayunya ke negeri Jepun.
Di sana Magno dijual 17.500 yen.
Untuk saat ini, Singgih memfokuskan
pada pasar luar negeri. Alasannya sederhana: agar negeri ini, yang
memiliki berbagai jenis kayu, dikenal sebagai penghasil produk kayu
yang baik. Pasar dalam negeri pun terpaksa ditinggalkannya. Tahun ini
pasar Amerika telah menanti produknya, berupa 2.000 unit radio kayu.
”Sekarang saya sedang mengerjakan order awal mereka,” katanya.
http://www.indonesiakreatif.net/cerita-sukses/singgih-s-kartono/all/1/
2010-01-18 | | |
Sejak itu, Singgih mulai kembali
menggarap kayu. Produk pertamanya kaca pembesar dengan bingkai kayu
dalam berbagai ukuran. Kemudian, dia merambah ke alat-alat kantor.
Tiba-tiba Singgih teringat proyek tugas akhir kuliahnya di Jurusan
Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi
Bandung. Ketika mengajukan tugas akhir, dia membuat konsep radio
kayu.
Radio kayu buatannya mulai dikenal
ketika dia menang dalam ajang kompetisi desain internasional. Pada
tahun 1997 Singgih Kartono mengikutkan karya desainnya yang diberi
judul “Crafts Radio” pada kompetisi International Design Resource
Association (IDRA). IDRA merupakan kompetisi tahunan bagi rancang
produk berwawasan lingkungan. “Crafts Radio” dianggap memenuhi
kriteria lomba yaitu berupa produk yang terbuat dari bahan/material
yang “bersahabat pada lingkungan,” seperti material daur ulang,
atau yang berasal dari sumber yang dapat diperbaharui. Produk yang
dilombakan harus dapat didaur ulang atau dipakai kembali, juga harus
dapat dimanufaktur secara ekonomis dan sesuai dengan pasar sasaran.
Panitia bahkan menyiapkan paket contoh material yang dapat dipakai
oleh para peserta lomba, di antaranya adalah: kaca, beberapa jenis
plastik, kertas bekas campuran, puing dan bahan bangunan bekas, serta
karet dari ban bekas. Kompetisi internasional yang sangat bergengsi
ini terdiri atas juri-juri yang sangat kompeten di bidang desain. Tim
jurinya terdiri dari perancang produk mancanegara, redaktur majalah
desain Amerika, wakil dari dunia industri seperti IKEA (Swedia),
arsitek, pengajar di bidang desain, serta pekerja di bidang produk
daur ulang telah berkumpul di Seattle sejak bulan April 1997 dan
memilih 46 produk dari 200 rancangan produk yang didaftarkan oleh
peserta dari 21 negara untuk diikutsertakan dalam pameran IDRA. Karya
Singgih termasuk dalam karya yang diundang untuk mengikuti pameran
bahkan meraih 2nd Award dalam Kompetisi desain internasional yang
berpusat di Seattle, USA.
Segera setelah kemenangannya di Seattle
tahun 1997, panitia IDRA menggelar pameran yang sama di Jepang.
Mereka mengundang Singgih. Tapi rupanya belum jodoh. 6 tahun setelah
itu, pada tahun 2003, sang perancang mendirikan perusahaannya sendiri
(Piranti Works). Rumahnya sendiri dijadikan sebagai tempat bekerja.
Dengan mempekerjakan masyarakat sekitar, menggunakan kayu Indonesia,
proses pembuatan produk inipun dimulai. Inilah awal mulanya brand
Magno. Setelah perlahan-lahan menyiapkan produk ini, akhirnya pada
bulan Desember 2006, produk ini kembali dipasarkan di Jepang.
Sambutannya cukup menggembirakan. Pembeli di sana meminta dalam
jumlah banyak, untuk dijual secara online.
Gara-gara dijual online, berbagai situs
Internet mengulas Magno. Mereka membedah fungsi, desain, hingga
konsep usahanya yang ramah lingkungan. Konsep eco product yang
diusungnya menjadi nilai tambah. Semua materi yang dipakai untuk
produk ini didapatkan dari tanaman yang tumbuh di kampung halamannya.
Kayu sonokeling, misalnya, diambil dari Magelang. ”Saat ini saya
melakukan pembibitan tanaman yang dibutuhkan dalam usaha ini,”
katanya. Memanfaatkan alam dengan sebaik-baiknya, begitulah konsep
usahanya.
http://www.indonesiakreatif.net/cerita-sukses/singgih-s-kartono/all/1/
2010-01-18 | |
Total 120 Articles
|
|
 |
| ARTICLE |
 | Arti Hadiah Pemberian Pria [2010-10-05]
Seringkali wanita
bertanya-tanya setelah diberi hadiah oleh pasangannya. Padahal, hadiah yang
diberikan oleh pria sebenarnya berdasarkan pertimbangan yang sangat simpel.
Oleh karena itu mereka kerap menjadi bingung, apa yang salah dengan hadiah yang
diberikannya?
|  | Arti Sebuah Hadiah [2010-09-24]
Hadiah dapat melakukan
apa yang tidak dapat dilakukan ucapan dan permintaan ma’af. Ia mampu
menghilangkan kabut hati, memadam kan api permusuhan, menenangkan kemarahan dan
melenyapkan rasa iri hati dan kedengkian. Ia dapat mendatangkan kecintaan dan
persahabatan setelah sekian lama tercerai-berai.
|  | Tenun Indonesia Go International [2010-04-11]
GUCCI dan Christian Dior berniat untuk
menggunakan tenun Indonesia dalam varian produknya. Sektor industri
tenun di Tanah Air akan kembali terangkat setelah beberapa tahun ini
mengalami penurunan produksi. Bak gayung bersambut, pemerintah pun
langsung menindaklanjuti kerja sama dengan dua label kenamaan dunia
ini. Syaratnya, perlu ada label khusus untuk setiap produk yang
menggunakan tenun Indonesia sehingga nama dan kualitas produk
domestik juga ikut dikenal secara global.
|  | Alami yang Disuka [2010-03-11]
Batik Madura mulai dilihat sebagai
potensi Tanjung Bumi, dan Madura secara umum. Beberapa tahun silam,
di Tanjung Bumi juga pernah didirikan Unit Pelayanan Teknik Batik
(UPT Batik) oleh dinas Perindustrian Kabupaten Bangkalan. Sebab
banyaknya pengrajin batik di Tanjung Bumi. Dalam perjalanannya UPT
Batik itu berfungsi sebagai wadah dari hasil karya para perajin.
Sekaligus sebagai mediator antara perajin dan pembeli. Pada saat itu
semua batik hasil para perajin di kecamatan tersebut di kumpulkan di
UPT tadi.
|  | Merajut Waktu Menjalin Makna [2010-03-11]
Kain tenun dan hasil tekstil lainnya
adalah suatu warisan kekayaan peninggalan para leluhur bangsa
Indonesia yang tak ternilai harganya. Hampir seluruh kelompok etnis
di wilayah Nusantara hingga saat ini masih melakukan pembuatan tenun,
baik secara turun temurun maupun dalam wilayah industri kecil dan
menengah. Hasil-hasil tenun dari Nusantara juga menjadi salah satu
bentuk artefak budaya yang paling menyebar dihampir seluruh museum
dibelahan dunia. Kekaguman pada corak atau motif dan pola-pola yang
rumit namun indah serta halus dan mempunyai kandungan makna budaya
menjadikan para pencinta kain tenun dan peneliti diseluruh dunia
mengakui bahwa estetika kain tenun di Indonesia memang begitu beragam
dan bernilai budaya tinggi.
| | [View All]
|
|
| LINKS |
|
|
| RANDOM GALLERY |

ERVAN HANDS ON
|
|