We would be happy to provide custom-made design to meet your corporate gift needs. Please contact our corporate gift advisor.



2010-01-20


Batik memang sedang trend. Dimulai dari para selebritis yang mengkampanyekan masyarakat untuk cinta batik. Kemudian kalangan-kalangan socialite mengenakannya. Yang akhirnya menyeruak semua kalangan. Beredar luas, boom!

Batik (atau kata Batik) berasal dari bahasa Jawa amba yang berarti menulis dan titik. Kata batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan malam (wax) yang diaplikasikan ke atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye), atau dalam Bahasa Inggrisnya wax-resist dyeing.

Bila dilihat dari dari metode pembuatannya, batik terbagi menjadi lima macam: batik tulis, batik cap, batik sablon, batik painting dan batik printing. Tapi hanya tiga jenis yang dikenal oleh kalangan umum yaitu batik tulis, batik cap dan batik print yang bahan kainnya terkenal panas alias tidak nyaman bila dikenakan.

aktualBatik tulis adalah batik yang motifnya dibentuk dengan tangan, yaitu digambar dengan pensil dan canting untuk penutup atau pelindung terhadap zat warna.

Batik cap adalah batik yang pembuatan motifnya menggunakan stempel. Cap ini biasanya terbuat dari tembaga yang telah digambar pola dan dibubuhi malam (cairan lilin panas)

Batik printing adalah batik yang penggambarannya menggunakan mesin. Jenis batik ini dapat diproduksi dalam jumlah besar karena menggunakan mesin modern. Kemunculan batik printing dipertanyakan oleh beberapa seniman dan pengrajin batik karena dianggap merusak tatanan dalam seni batik, sehingga mereka lebih suka menyebutnya kain bermotif batik.

Mengenakan batik, bagi saya tidak hanya asal memakainya begitu saja. Selain cara pembuatannya, keindahan batik juga dipengaruhi dari asal daerah pembuatannya. Semuanya cantik-cantik meski ragam corak dan warnanya berbeda-beda ditiap daerah.

Yuuk kita belajar untuk mengenal warisan nenek moyang kita yang satu ini. Selain Jawa ternyata Sumatera pun memiliki batik sendiri.

http://bz.blogfam.com/2008/10/si_jarik_cantik_bagian_1.html


2010-01-19


Dalam buku Batik Tatar Sunda yang ditulis Saftiyaningsih Ken Atik, Herman Jusuf, dan Didit Pradito, dijelaskan bahwa sebagian pengungsi itu adalah pembatik dari Banyumas. Mereka banyak memberikan pengaruh, terutama pada warna latar batik Ciamis, Indramayu, dan Tasikmalaya.

Warna latar itu disebut kuning gading, kuning dukuh, dan kuning gumading. Batik Tatar Sunda tidak hanya menyerap berbagai pengaruh dari daerah tetangga, tetapi juga negara lain.

Sejak kedatangan pengungsi Perang Diponegoro, batik diterima di Jabar mulai dari rakyat jelata hingga kalangan kerajaan. Batik paseban kuningan, misalnya, memiliki motif yang memanfaatkan bentuk ragam ornamen Istana Paseban di Cigugur, Kabupaten Kuningan. Istana Paseban berdiri sejak 1840. Bangunan itu konon pernah menjadi tempat konsentrasi tentara Mataram.

Beragam motif

Menurut Ketua Harian Yayasan Batik Jabar Komarudin Kudiya, pembatik yang datang dari Jateng kemudian dipengaruhi alam dan budaya Jabar. "Pengaruh itu misalnya dari bahan baku dari alam untuk pewarnaan dan budaya lokal sebagai motif batik," tuturnya.

Motif batik Tasikmalaya, misalnya, tidak mengenal kelas dan status sosial atau kedudukan seseorang. Hal itu sesuai dengan keadaan sosial masyarakat Tasikmalaya yang tidak membedakan status sosial. Batik Ciamis cenderung memiliki gaya batik pesisir karena ada kontak dagang atau hubungan antardaerah pembatikan di pesisir serta diilhami keadaan alam sekitar. Di Garut terdapat motif dengan tema kehidupan masyarakat sehari-hari, antara lain kendi, capung, kupu-kupu, anyaman bambu, dan kurungan ayam.

"Motif batik juga bisa diilhami dari hikayat daerah. Saya sudah membuat sekitar 90 motif batik tentang hikayat. Sebagian besar adalah hikayat Jabar," katanya.

Hikayat itu antara lain tentang Kesultanan Cirebon, Situ Cileunca, dan topeng Cirebon. Kini, seiring dengan perkembangan zaman, batik tak lantas menjadi produk usang. Bahkan penggunaannya oleh masyarakat semakin luas.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Jabar Netty Heryawan mengatakan, batik kini tidak hanya digunakan dalam acara resmi, tetapi juga santai. Bahkan semakin banyak anak muda bangga mengenakan batik.

"Jabar memiliki potensi besar dalam perbatikan secara produksi ataupun kekayaan motif," katanya. (dwi bayu radius)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/08/11/17025541/.Berawal.dari.Perang.Diponegoro


2010-01-19


Sepintas terlihat seperti bentuk kotak biasa, namun panel depan dan belakangnya dibentuk dengan bentuk lengkung sehingga terkesan bentuk organik. Namun, bagian dalamnya berfungsi sebagaimana radio normal.

Radio ini dapat menerima sinyal AM dan FM dan telah dioptimalkan untuk dapat digunakan di Jepang. Dengan channel FM, dapat menerima saluran TV analog dari channel 1 sampai 3.

Untuk batang antena saluran FM, dapat dipanjangkan dalam 4 bagian. Dengan menggunakan baterai AAA sebanyak 4 buah, radio ini sudah bisa dinikmati. Penggunaan baterai electric charger pun bisa digunakan.

Ada 3 tombol (dial) yang dapat dioperasikan. Tombol untuk tuning terdapat dibagian atas panel depan. Di bagian bawahnya terdapat tombol on-off dan juga tombol pengeras suara. Dengan memikirkan tentang keseimbangan bagian depan radio ini, kedua buah tombol ini dibuat dengan ukuran yang berbeda.

Di bagian belakang terdapat tombol pengatur saluran AM dan FM. Kemudian, dibawahnya terdapat tempat baterai. Untuk membuka dan menutup tempat baterai ini, digunakan lingkaran yang terbuat dari karet dan batang kayu ebony yang dapat diputar dengan tangan. Keterangan tentang produk ini tertulis dibalik cover baterai. Bagian-bagian kecilpun dipikirkan dengan sangat baik.

Kemasan produk ini terdiri dari, 2 buah panel kayu balsa didirikan pada kedua sisinya, kemudian dibungkus dengan kertas kardus dan diikat dengan karet. Ketika produk ini dikirim, tidak ditemukan adanya kerusakan didalamnya, walaupun menggunakan material yang “seadanya” dan tetap cantik dilihat. Atas dasar itulah kemasan ini dirancang. Kerena kemasan ini dirancang dengan sangat hati-hati, maka amat sayang apabila kardus dari produk ini dibuang begitu saja.

Produk “Radio Kayu” ini berbeda dengan produk lain yang terbuat dari plastik. Diperlukan perhatian khusus apabila ingin menggunakannya secara terus menerus. Untuk menghindari permukaan radio dari debu, maka permukaan kayu radio ini dilapis dengan minyak. Biasanya hanya diperlukan kain lembut untuk membersihkannya dan biarkan mengering. Harus dilakukan secara perlahan. Sesekali, permukaan radio ini perlu diolesi dengan teak oil atau sejenisnya dan dilap dengan kain yang lembut. Jika dirawat dengan baik dan hati-hati, “Radio Kayu” ini lama kelamaan bisa lebih bercahaya.

Saat ini radio kayu atau wooden radio boleh dibilang merupakan salah satu hot item. Rupanya, ketika banyak produk dibuat dari plastik, materi dari kayu memberikan eksotisme tersendiri. Isu lingkungan juga membuat produk semacam ini naik daun. Alhasil, dalam sepuluh tahun terakhir, produk semacam ini banyak diburu. Produsen asal Cina termasuk yang cepat bergerak.

Toh, radio Singgih tetap punya daya tarik. Berbeda dengan produk lainnya yang masih memuat unsur di luar kayu seperti logam dan plastik, produk buatan Singgih memakai kayu sebagai materi utama. Peminatnya bejibun. Dari Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, tempat workshop-nya, Magno terbang ke Jepang, Inggris, Prancis, hingga Finlandia. ”Jepang merupakan pasar utama,” kata Singgih. ”Tidak terlalu besar, tapi terus berlanjut.” Dalam sebulan, Singgih mengirimkan 50 unit radio kayunya ke negeri Jepun. Di sana Magno dijual 17.500 yen.

Untuk saat ini, Singgih memfokuskan pada pasar luar negeri. Alasannya sederhana: agar negeri ini, yang memiliki berbagai jenis kayu, dikenal sebagai penghasil produk kayu yang baik. Pasar dalam negeri pun terpaksa ditinggalkannya. Tahun ini pasar Amerika telah menanti produknya, berupa 2.000 unit radio kayu. ”Sekarang saya sedang mengerjakan order awal mereka,” katanya.

http://www.indonesiakreatif.net/cerita-sukses/singgih-s-kartono/all/1/


2010-01-18


Sejak itu, Singgih mulai kembali menggarap kayu. Produk pertamanya kaca pembesar dengan bingkai kayu dalam berbagai ukuran. Kemudian, dia merambah ke alat-alat kantor. Tiba-tiba Singgih teringat proyek tugas akhir kuliahnya di Jurusan Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Ketika mengajukan tugas akhir, dia membuat konsep radio kayu.

Radio kayu buatannya mulai dikenal ketika dia menang dalam ajang kompetisi desain internasional. Pada tahun 1997 Singgih Kartono mengikutkan karya desainnya yang diberi judul “Crafts Radio” pada kompetisi International Design Resource Association (IDRA). IDRA merupakan kompetisi tahunan bagi rancang produk berwawasan lingkungan. “Crafts Radio” dianggap memenuhi kriteria lomba yaitu berupa produk yang terbuat dari bahan/material yang “bersahabat pada lingkungan,” seperti material daur ulang, atau yang berasal dari sumber yang dapat diperbaharui. Produk yang dilombakan harus dapat didaur ulang atau dipakai kembali, juga harus dapat dimanufaktur secara ekonomis dan sesuai dengan pasar sasaran. Panitia bahkan menyiapkan paket contoh material yang dapat dipakai oleh para peserta lomba, di antaranya adalah: kaca, beberapa jenis plastik, kertas bekas campuran, puing dan bahan bangunan bekas, serta karet dari ban bekas. Kompetisi internasional yang sangat bergengsi ini terdiri atas juri-juri yang sangat kompeten di bidang desain. Tim jurinya terdiri dari perancang produk mancanegara, redaktur majalah desain Amerika, wakil dari dunia industri seperti IKEA (Swedia), arsitek, pengajar di bidang desain, serta pekerja di bidang produk daur ulang telah berkumpul di Seattle sejak bulan April 1997 dan memilih 46 produk dari 200 rancangan produk yang didaftarkan oleh peserta dari 21 negara untuk diikutsertakan dalam pameran IDRA. Karya Singgih termasuk dalam karya yang diundang untuk mengikuti pameran bahkan meraih 2nd Award dalam Kompetisi desain internasional yang berpusat di Seattle, USA.

Segera setelah kemenangannya di Seattle tahun 1997, panitia IDRA menggelar pameran yang sama di Jepang. Mereka mengundang Singgih. Tapi rupanya belum jodoh. 6 tahun setelah itu, pada tahun 2003, sang perancang mendirikan perusahaannya sendiri (Piranti Works). Rumahnya sendiri dijadikan sebagai tempat bekerja. Dengan mempekerjakan masyarakat sekitar, menggunakan kayu Indonesia, proses pembuatan produk inipun dimulai. Inilah awal mulanya brand Magno. Setelah perlahan-lahan menyiapkan produk ini, akhirnya pada bulan Desember 2006, produk ini kembali dipasarkan di Jepang. Sambutannya cukup menggembirakan. Pembeli di sana meminta dalam jumlah banyak, untuk dijual secara online.

Gara-gara dijual online, berbagai situs Internet mengulas Magno. Mereka membedah fungsi, desain, hingga konsep usahanya yang ramah lingkungan. Konsep eco product yang diusungnya menjadi nilai tambah. Semua materi yang dipakai untuk produk ini didapatkan dari tanaman yang tumbuh di kampung halamannya. Kayu sonokeling, misalnya, diambil dari Magelang. ”Saat ini saya melakukan pembibitan tanaman yang dibutuhkan dalam usaha ini,” katanya. Memanfaatkan alam dengan sebaik-baiknya, begitulah konsep usahanya.

http://www.indonesiakreatif.net/cerita-sukses/singgih-s-kartono/all/1/


2010-01-18

Total 120 Articles
ARTICLE
Arti Hadiah Pemberian Pria [2010-10-05]

Seringkali wanita bertanya-tanya setelah diberi hadiah oleh pasangannya. Padahal, hadiah yang diberikan oleh pria sebenarnya berdasarkan pertimbangan yang sangat simpel. Oleh karena itu mereka kerap menjadi bingung, apa yang salah dengan hadiah yang diberikannya?

Arti Sebuah Hadiah [2010-09-24]

Hadiah dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan ucapan dan permintaan ma’af. Ia mampu menghilangkan kabut hati, memadam kan api permusuhan, menenangkan kemarahan dan melenyapkan rasa iri hati dan kedengkian. Ia dapat mendatangkan kecintaan dan persahabatan setelah sekian lama tercerai-berai.


Tenun Indonesia Go International [2010-04-11]

GUCCI dan Christian Dior berniat untuk menggunakan tenun Indonesia dalam varian produknya. Sektor industri tenun di Tanah Air akan kembali terangkat setelah beberapa tahun ini mengalami penurunan produksi. Bak gayung bersambut, pemerintah pun langsung menindaklanjuti kerja sama dengan dua label kenamaan dunia ini. Syaratnya, perlu ada label khusus untuk setiap produk yang menggunakan tenun Indonesia sehingga nama dan kualitas produk domestik juga ikut dikenal secara global.


Alami yang Disuka [2010-03-11]

Batik Madura mulai dilihat sebagai potensi Tanjung Bumi, dan Madura secara umum. Beberapa tahun silam, di Tanjung Bumi juga pernah didirikan Unit Pelayanan Teknik Batik (UPT Batik) oleh dinas Perindustrian Kabupaten Bangkalan. Sebab banyaknya pengrajin batik di Tanjung Bumi. Dalam perjalanannya UPT Batik itu berfungsi sebagai wadah dari hasil karya para perajin. Sekaligus sebagai mediator antara perajin dan pembeli. Pada saat itu semua batik hasil para perajin di kecamatan tersebut di kumpulkan di UPT tadi.

Merajut Waktu Menjalin Makna [2010-03-11]

Kain tenun dan hasil tekstil lainnya adalah suatu warisan kekayaan peninggalan para leluhur bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Hampir seluruh kelompok etnis di wilayah Nusantara hingga saat ini masih melakukan pembuatan tenun, baik secara turun temurun maupun dalam wilayah industri kecil dan menengah. Hasil-hasil tenun dari Nusantara juga menjadi salah satu bentuk artefak budaya yang paling menyebar dihampir seluruh museum dibelahan dunia. Kekaguman pada corak atau motif dan pola-pola yang rumit namun indah serta halus dan mempunyai kandungan makna budaya menjadikan para pencinta kain tenun dan peneliti diseluruh dunia mengakui bahwa estetika kain tenun di Indonesia memang begitu beragam dan bernilai budaya tinggi.

[View All]
LINKS
Leoniko
Nusansifor
RANDOM GALLERY


ERVAN HANDS ON




HOME | ABOUT US | SERVICES | GALLERY | ARTICLE | HOW TO BUY | COORPORATE GIFT ADVISOR | CONTACT US

© Copyright 2007 IDEGIFT.COM Designed by Leoniko